アリシャリーフ 特別

A Personal Expression and Opinon

Belajar Dari Negeri Sakura

leave a comment »

Kadang iri banget bila memperhatikan betapa tertibnya bangsa Jepang dalam menata hidup dan kehidupannya. Kasap mata, semua tertata teratur dan sangat harmonis. Seolah-olah bangsa Indonesia tak akan pernah kesampaian bisa berbenah seperti bangsa Jepang. Pesimistis, apalagi bila membandingkan dengan para desicion maker kita, yang tidak memiliki hati yang ikhlas dalam membangun negeri ini. Terkalahkan oleh nafsu keduniawian alias ubudunya. Padahal dogma agama sagat mengutamakaan keihklasan dan akhlaqul karimah. Sementara di Jepang, manusianya tak pernah mengenal dan mengerti apa itu dosa.

Coba kita perhatikan bagaimana life style orang Jepang sehari-hari, dari mulai jalan kaki, berlalu lintas, tata tertib di rumah, hingga aturan main duduk bila bersama teman, rekan busiess, atau senioritas, cara makan dan minum, semua ada prosedur dan ada tata urutannya. Ditaati, bukan semata-mata karena law enforcement tetapi lebih karena perilaku budaya mereka yang sangat kuat. Disiplin, kerja keras dan focus pada pekerjaan, adalah produk dari budaya yang tadi saya uraikan sekintas kilas tersebut. Budaya malu dan harakiri adalah social punishment yang tumbuh dalam setiap diri pribadi orang Jepang.

Bagi orang asing yang datang ke jepang dengan harapan ada rasa aman dan nyaman, ada kepastian dalam segala hal, pelayanan yang prima dari setiap yen yang kita belanjakan, bagi yang faham bahasa Jepang, informasi yang kita perlukan dengan sagat mudah didapat, maka Jepang bak negeri syurgawi.

Saya tidak mengagungkan-agungkan bangsa jepang, kemudian mengerdilkan bangsa sendiri. Tulisan ini hanya sekedar memberi motivasi dan isnpsirasi kepada kita semua, karena bangsa kita juga berkemampuan seperti bangsa lainnya du dunia ini. Seperti kita saksikan dalam kehidupan masyarakat kita, ketika mereka masuk mengendarai mobil ke jalan toll, koq bisa ya mereka berperdaban seperti bangsa lainnya!. tetapi begitu keluar jalan toll, masuk kejalan biasa, kita kembali jadi bangsa yang bar bar, bak monyet saja.

Written by Ali Syarief

January 26, 2012 at 1:36 pm

Posted in Easy Reading

Walau Tak Bermimpi Menjadi Presiden

leave a comment »

coutesy from YahooKalau ku diberi kesempatan seolah-olah sebagai Presiden Semnetara, kemudian aku memimpin sidang kabinet, maka agenda saya adalah bertanya kepada para menteri: “saudara-saudara, saya sudah mempercayakan kepada kalian untuk memimpin kementrian-kementrian dan lembaga tinggi lainnya, lalu saya ingin mendengar dari anda semua, bagaimana kalian menterjemahkan janji saya kepada rakyat, menjadi program nyata di lembaga yang saudara pimpin?”
Coba saudara Menteri Sekretaris Negara, saya ingin dengar terlebih dahulu dari sudat pandang kesekerariatan.
Lalau Mensekneg, menyampaikan uraiannya sebagai berikut :

Bapak Presiden yang saya muliakan, selamat pagi dan terima kasih atas kesempatan pertama ini. Saya ingin to the point saja, pertama, ketika kita mulai bekerja, tahun 2010 yang lalu. Kita tidak bisa menjabarkan kontrak social Bapak dengan rakyat, karena perundang-undangannya tidak sinergi dengan system politik kita.
Maksud sauadara bagaimana?

Pada bulan Agustus tahun 2009, Bapak Presiden SBY 1 menyampaikan pidato didepan sidang paripurna DPR RI, Pengantar RAPBN tahun 2010. Padahal President SBY 1, selesai melaksanakan tugas akhirnya pada October tahun 2009. Begitu ditegaskan dalam UUD 1945, bahwa jabatan President adalah 5 tahun. Jadi sesungguhnya tidak ada kaitannya antara yang disampaikan oleh Presiden SBY 1, dengan pemerintahan yang Bapak Pimpin sekarang. Jadi Kabinet yang Bapak Pimpin itu, baru menyusun program kerjanya berdasarkan kontrak social Bapak, sesunggunya mulai tahun 2011 ini.

Selanjutnya Bapak Presiden Sementara yang mulia, satu hal lagi yang agak aneh dalam perundang-undangan kita, yaitu soal bagaimana menyusun RAPBN tersebut. Ini tidak seiring dan sejalan dengan system politik presidential. Dalam UU no 25/2004 tentang “system Perencanaan Pembangunan Nasional”, intinya buttom up planning itu, sehingga melibatkan semua stake holders. Hal ini bertabrakan dengan hakekat system pemilihan langsung ( {Presidential). Sesungguhnya rakyat telah mempercayakan sepenuhnya secara mutlak kepada Bapak melalui kedaualatannya dengan memberikan suara penuh pada Pikpres yang lalu.

Saudara Mensekneg, cukup sekian dahulu, saya jandi pusing nech. Para Menteri, baik sidang saya skor dulu, terima kasih atas perhatiannya. Ntar saya kembalikan lagi kepada Bapak SBY 2.
Wasalam.

Written by Ali Syarief

December 23, 2011 at 10:54 am

Posted in Easy Reading

Kontemplasi-Ku

leave a comment »


Waktu Aku Bermain-Main

Masih terbayang urutanya
Main ini, main itu
Berlari kesana kemari
Teriak teriak kegirangan
Main Gundu
Ujan ujanan

Walau itu terjadi setengah abad yang lalu
Tetapi lengket dalam ingatanku
Isyarat sang waktu berlari bak roket melesat
Tak terasa terbalut cinta dunia
Tak mungkin kembali lagi
Aku berjalan walau merayap detik per detik

Kini setiap detak detik terdengar
Suara itu mengusik pikiranku
Walau Tidak takut menjumpai-Mu
Tetapi aku takut sampai
Aku tak mau bertemu dengan hari itu
Hari ketika aku ditangisi dan ditinggalkan sendiri
Membusuk

Brawijaya 21/12/11

Written by Ali Syarief

December 21, 2011 at 9:40 am

Posted in Easy Reading

Oh My Gods

with one comment

by Ali Syarief

I can not write down “Gods”, otherwise will againts the belief of most of the people in this
world. Currently I read the news in Malaysia that there were some Churches were burned down by Islamic or fundamentalist group because they (Christian) called “Allah” to their God, I said; “ Oh my God”, what ‘s wrong? God, a holly name of the supreme creator, is well known by every civilization but the names of vary depending on the place and feeling of the local people.

My Friend Imam Subagio, who is a Javanese, called Him Gusti Allah. While Ayu Sukmadewi, She is Balinese and She is Hindu, called Him “ Sangyang Widiwase or Dewata”, while Alexander Soares who is Timorese called Maromak. Anyway a Sundanese like myself called “Gusti anu murbeng Alam”. Moses, Isa and Muhammad, who are well known called Prophets, introduced in their holly books such as Torah, Injil (the Bibble) and Qur”an for the same God as Elloi, Elloh or Allah.

Aramaic, the Semitic language, old language of the middle east, is used to describe a variety of languages spread over a vast area, today from Egypt to Iraq, and Turkey in the north. The Aramaic language was spoken as a means of communication for official business, diplomacy and as divine language by Assirians, Babylonians, Persians, Chaldeans, Jews and Syrians, and by all people in the middle east in ancient times.

Arabic, a Semitic language, and Hebrew, also a semitic language, are closed to Aramaic. Those three closely related expressed the subconsious feeling of the need a supreme power in ythe same way. Jews said “Elloi” or “Elloh”, that’s some time later changed to become “Ellohim” or “Yahwe” to as name of God. The Arab used “Allah” as the holy name of God. which was written down in the Qur’an. So the three peoples with similar languages expressed the same for the name of God. (Quoted from Sulityo Pujo- The Jakarta Post,1/25/2010).

How do we call to people who destroy Churches, Mosques or Synagogues or maybe other holy places as believer? The true believers should respect to other holly places as Muhammad even offer his mosques to Jewish People on their Journey to perform their prayers. Shalahudin Al Ayyubi ordered his followers to respect Churches and let them free because they were People of the Book (Ahli Kitab).

By the way, sometimes I contemplate that I have to change my thought on God as it lies in my mind as mostly people aslo think as they are now exist. Look at my friend who shared with me “that the existence of God because of us, without us there will be no God”, RR

Written by Ali Syarief

December 17, 2011 at 7:26 pm

Posted in Easy Reading

MEMAKNAI NEGARA BESAR & BANGSA BESAR

leave a comment »

Negara Besar.
Seringkali kita mendengar dari para petinggi kita berteriak dengan gagahnya; : Indonesia adalah Negara besar”. Wilayahnya seluas benua Amerika. Bagaimana mereka memaknainya? Tetapi semua managemen disentralisir di yang namanya “Pusat” atau Jakarta. Contoh sederhana, cetak kertas suara saja harus di cetak Jakarta, kemudian didistribusikan ke daerah-daerah yang luasnya segede Amerika itu. Anggaran Pembangunan menggelembung ke atas, di Pusat, padahal pelaksananaan pembangunan riel itu ada di daerah-daerah. Idea-idea seringkali datangnya dari Pusat, padahal orang-orang yang cerdas dengan idea-idea brilliant sesungguhnya banyak di daerah-daerah yang tak pernah muncul. Akhirnya Jakarta maju sendiri. Padahal tanngung Jawa pemerintahan Pusat itu, adalah urusan-urusan Politik Luar Negeri, Pertahanan Keamanan dan Agama.

Kalau anda bertanya, Psatnya Amerika itu dimana sih? Anda tidak akan pernah menemukan jawabanya, karena Washington adalah hanya sekedar wilayah Dstrik saja atau kalau di kita tak ubahnya wilayah Kecamaan. Pusat-pusat itu tersebar di Negara-negara bagian. Di Australia, Pusat pemerintahan ada di Canberra. Kota yang sangat sepi, hampir-hampir sangat membosankan, karena penduduknya hanya 250 ribu orang saja. Kebanyakan di huni oleh pegawai-pegawai pemerintahan. Pusat-puat kegiatannya terfokus di Sydney atau Melbourne.

Bangsa Besar.
Saya hampir tidak pernah faham apa makna Indonesia adalah bangsa yang besar!, yang sering kali juga di sampaikan secara emosioanal digelorakan oleh pimpinan-pimpinan kita, baik pimpinan pemerintahan maupun politkus. Padahal kita tahu di Luar negeri itu Indonesia hanya popular Bangsa yang Paling Korup di Dunia. Semakin terkenal Indonesia di Luar Negeri ketika Amrozi Cs meledekan Bali, terkenalah dengan Bangsa Terorist. Hampir pasti orang Amerika banyak yang tidak mengenal Indonesia. Kalau kita ingin introducing Indonesia, harus kita mulai dengan “ Bali “ dahulu. Di Singapore sejak kita turun dari pesawat, sopir taxi, restoran, ditoko toko electronic, mall mall, kita menjadi bahan perhatian orang Singapore, karena orang Indonesia dikenal sebagai bangsa yang suka memborong apa saja secara emosional. Takashimaya adalah mall yang termewah di Singapore dan pengunjungnya kebanyakan orang Indonesia. Tetapi jangan salah ketika orang singapore menegur, “ my maid is also Indonesian from Jawa”.

Konon kabarnya di Eropa kalau mengungkapkan karakteristik yang jelek dan tidak berakhlaq dengan ungkapan kata “Indonesien”. Tapi belagunya, Indonesia itu lebih banya musuhnya ketimbang karibnya!.

Written by Ali Syarief

December 2, 2011 at 9:26 am

Posted in Easy Reading

Merajut Keutuhan Budaya

leave a comment »

Tidak dapat kita pungkiri bahwa semua permasalahan bangsa saat ini, pada akhirnya tertumpu kepada / disebabkan oleh lemahnya nilai-nilai kekokohan budaya bangsa kita sendiri. Padahal identitas suatu bangsa, kebesaran suatu bangsa dan bahkan keutuhan suatu bangsa, akan sangat ditentukan oleh keajegan budaya bangsanya itu sendiri.

Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai kesatuan etnisitas, suku, ras, agama dan budaya local (endogenous) adalah merupakan keunikan tersendiri, yang justru sekaligus bukan saja seharusnya menjadi kekuatan (strength), akan tetapi dapat menjadi suatu keunggulan (advantage) dalam berbagai hal.

Faktor Geografis, Demografis dan keragaman budaya local adalah potensi bangsa ini, baik dalam pengembangan ekonomi dalam rangka mensejahteraan bangsa, landasan politik sebagai pengembangan demokrasi dalam rangka membentuk pemerintahan yang kuat, maupun keutuhan wilayah nuasantara itu sendiri. (Ingat; IPOLEKSOSBUD MIL&HANKAM)

Namun demikian, akhir-akhir ini ada fenomena, bahwa kita semakin merasakan kehawatiran yang sangat mendalam, bahwa pengikisan nilai-nilai cultural kita, telah menjadi semakin besar, sehingga bukan saja telah mengancam nilai-nilai kebangsaan kita, akan tetapi keutuhan suatu bangsa akibat nilai moralitas bangsa yang semakin rendah, yang pada gilirannya akan mengancam terhadap keutuhan wilayah nusantara. (Perhatikan peristiwa seperti tawuran, dekadensi moral remaja, kriminilitas dan sadisme,dll)

Oleh karena itu, adalah menjadi kewajiban semua pihak, untuk kembali merajut tatanan budaya bangsa ini, sehingga kembali pada relnya, agar dapat memicu kekuatan bangsa, baik dalam kehidupan politik, ekonomi maupun dalam berbudaya itu sendiri.

Written by Ali Syarief

December 2, 2011 at 8:49 am

Posted in Easy Reading

Isyarat Qur’an Pada Kejadian Alam

with 2 comments

Pada suatu acara makan malam, aku kebetulan duduk dengan seorang dokter, salah seorang tokoh akhli jantung di Indonesia, DR. Demin Shen. Ia ramah, tersenyum dan sangat akrab dengan pasien. Banyak pasien yang ia tolong tanpa dibebani biaya yang wajar. Kita ngobrol kesana kemari, hingga akhirnya beliau berkata seperti ini : “Pak Ali, coba perhatikan kuping, hidung, mata dan anggota tubuh lainnya, bisa tumbuh dengan sangat harmony”. ” Mata tidak lebih besar dari muka, atau telinga tumbuh menutupi hingga hidung, walau tumbuh hingga 50 tahun usianya”, lanjutnya.

Pemahaman beliau itu, sama seperti yang tersirat pada salah satu ayat – surat di dalam al-qur’an yang artinya “Aku Ciptakan kalian itu dengan sebaik-baik bentuk (sempurna) – laqod kholaqnal insana fie ahsani taqwin”, surat Attien. Saya katakan juga itu kepada beliau, dan DR. Shen tersenyum, sambil terus memebedah ilmu anatomy tubuhnya.

Saya tidak dapat membayangkan, kalau DR. Shen tersebut dapat memahami ayat itu di padukan dengan keilmuan dalam bidang kedokteran yang ia kuasai. Takjub kali.

Bolehkan saya mengajukan pertanyaan, benarkah bahwa ayat alqur’an hanya akan bermakna kepada mereka yang menggunakan akal sehatnya? Sebagaimana banyak bertaburan ayat2 “afala ta’qilun”? Kepada siapa nida ayat itu ditujukan?

Akhirnya saya mengutip temen dokterku juga, yang mengatakan sbb : “Batas keyakinan sejati adalah pembuktian, karena bila hanya “percaya” artinya manusia belum melakukan apa-apa, dan biarkanlah ini sebagai caraku untuk mengenal Tuhanku “.

Written by Ali Syarief

November 30, 2011 at 2:19 pm

Posted in Easy Reading

Isntink Manusia dan Hewan

leave a comment »

courtessy from Yahoo

Walau khewan tidak di bekali akal, tapi hidupnya tetap eksis sebab ada instinctnya. Karena itu khewan tahu mana yang benar (haq) dan salah (bathil) dalam memilih makanan umpamanya. Gajah yang berada di habitatnya, ia tetap herbivore dan Singapun tetap Carnivora. Begitupun dalam menentukan pasangan birahinya, ia tidak akan salah pilih, yang jantan tetap memilih betina. Tidak seperti manusia.

Sekarang coba kita tengok sosok makhluk manusia, yang disebut juga sebagai khewan dalam terminology Arab, yaitu khayawan, ia dilengkapi isntict dan sekaligus nalar alias akal sehat. Seharusnya makhluk manusia, khayawanun nathiq-binatang berakal ini, menjadi sosok yang sempurna karena kelengkapan instinct (naluri) dan akal rasionya (sense). Tetapi dalam realitasnya, kadangkala nalurinya dikalahkan oleh akal sehatnya atau sebaliknya akal sehatnya dibimbing oleh nalurinya.

Instinct manusia beda dengan instinct binatang. Instinct binatang nampaknya given (sudah dari sononya ) sedangkan instinct manusia dibentuk oleh lingkungan peradabannya. Contonya anak ayam, begitu ia lahir ia tahu apa yang dimakannya. Sedangkan manusia yang hidup di Jawa, ia harus diperkenalkan kalau pepeda (sagu) itu adalah juga makanan manusia.

Sekarang saya ingin mengajak anda menyimak pengalaman diri pribadi saya, mengenal bangsa lain. Mayoritas masyarakat China tidak mengenal apa itu Tuhan, karerena peradaban masyarakatnya tidak bertuhan. Jadi akal sehatnya di bimbing oleh instinctnya tidak percaya atas adanya eksistensi Tuhan. Di Eropah, eksistensi Tuhan ada dalam peradaban mereka, tetapi akal sehatnya membimbing instinctnya, karena akal sehatnya tidak percaya lagi akan adanya eksistensi Tuhan. Jadilah pada Atheist.

Written by Ali Syarief

November 22, 2011 at 3:37 pm

Posted in Easy Reading

The Zero Sum Game – Bila Ada Yg Menang-Pasti Harus Ada Yang Kalah

with 5 comments

Kebetulan semalam turut nonton bola, di cafe belahan kemang. Sorak sorai penonton saat itu, memberi isyarat betapa besar antusiasme penontong terhadap kemenangan Tim Garuda di final Sea Game melawan Malaysia. Saya tidak dapat membayangkan, betapa kecewanya pencinta Bola malam itu, bila Tim kita kalah. Dan akhirnya memang kalah. Itulah hukum pertandingan. Ada yang memang, pasti Ada yang kalah. The Zero Sum Game.

Yg ingin saya berbagi disini adalah bagaimana Jepang membangun dunia Olah Raga. Visinya jelas, olah raga atau suatu permainan. It’s a game. Jepang pertama menatapkan siapa musuh olah raga yang harus di hadapi atau di tantang. Ia adalah Amerika. Olah raga apa yang besar di Amerika, dalam kacamata orang Jepang, bukan tinju atau atletik, tetapi Base Ball. Nah..disitulah Jepang focus membina cabang olah raganya.

Base Ball menjadi cabang olah raga yang telah menjadi favorit kesukaan masyarakat Jepang saat ini. Agenda pertangdingan Base Ball menjadi event national yang sudah berorientasi ke business. Rakyat suka. Sponsor beruntung, business running. Tetapi benar, kini America bukan negara yang tangguh bagi pe base ball Jepang. Namun agenda gulat Jepang, sumo, menjadi event rutin budaya yang menarik perhatian dunia.

Yang heran di negeri kita ini. Sepertinya kita tengah memaksakan diri ingin menempatkan Sepak Bola menjadi national symbol. Kalau benar begitu, visinya apa? Pertimbangannya apa? Bukankah dunia telah mengenal indonesia karena bukutangkis!?, yg sejak tahun 60 an kita berprestasi secara global. Sungguh sangat disayangkan, bulutangkis kita sudah tidak terlalu diperhitungkan lawan, kalah oleh hingar

bingarnya persepak bolaan yang tak pernah menuai prestasi kecuali ricuh.

Apa yang terjadi dengan visi membangun olah raga Jepang seperti itu? Athletic Jepang maju menjadi salah yang terdepan di dunia. Sepak Bola telah menjadi tontonan yang menarik pada world cup yang lalu. Badminton tangguh.

Written by Ali Syarief

November 22, 2011 at 1:37 pm

Posted in Easy Reading

Ketika Burung Gagak Berubah Warna-Kebenaranpun Sirna

with 4 comments

Salah satu cara manusia menentukan kebenaran adalah berdasar kepada opini umum. Misalnya, bila ada yang mengatakan satu juta orang  bahwa burung Gagak itu hitam warnanya, maka orang yang ke satu juta satu juga akan mengatakan bahwa burung gagak itu hitam warnanya.

Persoalan yang kemudian muncul adalah, ketika ada burung Gagak tidak hitam, apakah karena albino atau karena perubahan genetika lainnya menjadi putih warnanya, maka ia sering disebut bukan burung Gagak lagi.

Inilah yang saya ibaratkan dengan model kita cara mentukan kebenaran. Kita tidak pernah riset, siapa Tuhan yang sesungguhnya. Apakah kita pernah mengadakan penelitian, kitab mana yang benar-benar datang dari Tuhan!?. Apakah benar nabi itu utusan Tuhan, dst. Tetapi tatkala ada Tuhan lain yang diajukan orang lain, maka pasti disebutnya dia bukan Tuhan. Ketika ada yang mengaku nabi lagi, maka di pasti nabi palsu. Ketika ada kitab yang bukan yang ia yakininya, maka kitab itu dikatakan bukan dari Tuhan. Kitab Palsu.

Yang model gagak hitam itu, saya ibaratkan kebenaran dengan cara turun temurun dan yang selanjutnya kebenaran yang didapat dari pihak lain karena mendengarnya. Maka jadilah Kebenaran  itu menjadi kebenaran  “biologis” dan kebenaran “katanya”.

Written by Ali Syarief

November 21, 2011 at 5:16 pm

Posted in Article

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.