Cross Culture Institute & Training Program

About Cross Culture Institute

In the early 2000 when I was assigned as Country Representative for Australian Business Volunteer, Australian NGO funded by AusAid, met Prof. Edward T. Hogan – McQuarrie University Lecturer, and started working together with him. My deep understanding on Japanese Culture (I was awarded 2 scholarships by AOTS – Japanese government, to study in Japan) and Mr. Hogan ‘ s experience on how the Chinese do their businesses were interested by PT. Telkom (Training Division). We then spoke on Cross Culture topics in various occasions, different locations in country and overseas for years.

Starting 2010 I established Cross Culture Institute. This organization has the mission that because we live in this era of globalization where cultural differences are often crashed that caused losing opportunities and chances.

Cross cultural understanding is the ability of people for business people, diplomats and student to recognize, understand and correctly respond to people, incidents or situations where misunderstandings might arise due to cultural differences.

There are four Ls of cultural competence. Be able to look and listen, learn, and live with the people you are working with. You need to be aware of the cultural differences, be able to absorb them, and apply them in every decision you make.

There’s a famous Indonesia proverb, which I’m sure you are all aware of serves as an example of cultural awareness. When pointing a finger at someone, remember 3 fingers are pointing at you. It’s a proverb I’m fond of for many reasons. But it also doubles up as a mirror.

When we visit other countries and cultures, we are always putting up a mirror and trying to see ourselves in it. Often we blame others when the problem is in ourselves.

Why is cultural competence important? Considering others from your own point of view does nothing to build respect, or trust. Without respect and trust how can you do business with each other? More importantly, how can you keep doing business with each other?

What Do we do?

1. In-house training ABC on Cross Culture for all segments (from student to top manager)

2. Seminar and Practical on Cross Culture

One Day Seminar in your country and 3 Nights and 4 Days Practice in Japan (living together with Japanese families).

3. International Program Snow Camp on end of March in Nagano Prefecture, Summer Camp in Japan, Shanghai and in Indonesia on every July

4. Cross Culture Program/Home Stay Program, in Japan, Korea, USA, Mexico, Indonesia anytime

Testimonies

Indonesian To Japan

1. More than 40 Campus People: Rectors, Professors, lecturer and Academic Staff from The Association of Computer Universities (APTIKOM) in whole Indonesia, April 2018.

2. Victory School Bekasi, International School, March 2018 (Snow Camp and Home Stay) – This school participates every year since 2010

3. BSD BCA Employees, March 2018

4. ITB Student, 2017

5. Photographer Club, 2016

Japanese To Indonesia

1. December 25, 2018, 25 families to Malang, East Java

2. December 25, 2017, 20 Families to Jakara, Bogor, Bandung and Bekasi

3. Summer Camp in Lembur Pancawati Bogor

4. December, 2016, 16 Families in Jogyakarta

5. December 2015, 20 Families in Bandung, Jakarta, Tangerang and Bekasi

Note

Cross Culture Institute has been pair partnership with Hippo Family Club Japan. Hippo Family Club is a Japanese NGO that 22K members seriously learn foreign languages as well as cultures.

Personally I am also Hippo Family Club Representative for Indonesia.

41

People Reached
4

Engagements

 

Dibisiki Tuhan

Saatku menerawang kelangit yang tak bertepi

Pikiran dan qalbuku, sumeringah melihat bintang gemintang

Menikmati ayat suci alam

Seperti banyak lukisan dibuku tua

Tiba tiba, ada yang membisik ketelinga kiri

Aku tuhan palsu

Mau apa? Kutanya

dia terus mengoceh.

Mengaduk aduk semua cell yang ada dilorong otaku

kemudian kunyahannya dimuntahkan ke muka ku

baru aku ngeuh

ada bau tercium

Tuhan palsu itu berbisik lagi

Aku tidak menurunkan buku

Kenapa?

Karena aku tuhan.

Loh?

Aku bisa membuat kamu mengerti

tak harus membaca dan mendengar

Kok bisa?

Karena aku tuhan

Terus?

Aku juga tidak punya pesuruh.

Tidak perlu

Kenapa?

Karena aku tuhan

Jadi kamu itu siapa?

Aku sendiri tak bisa menjawab

Kenapa?

Karena aku tuhan

 

 

 

Jabong

Ketika sang surya mulai menatap

Menghembuskan kehangatan

Saat Srangenge mulai meredup

Kemudian datanglah hawa sejuk dari gunung

Lalu tidurku menjadi lelap

Semua ada

Walau tidak istimewa

Tapi kesederhanaan itulah, membuatku sehat

Menjadi terus semasa muda

Karena oxygen banyak dan air alam nan jernih

Iya memang Desa

Tapi hari hari bisa seperti hidup di Texas

Tidak saling mengganggu

Kecuali panggilan sholat seperti di Kota

Berisik

Banyak yg iri aku hidup didesa

bahagia

Tenang, tertib, dan sunyi

Hanya musik yg kusuka yg melantun

Selebihnya nyanyian berbagai burung liar

Sekarang

Teman-teman yang jauh menjadi satu atap

Seperti serumah saja

Jadi kenapa harus tinggal di tempat yg sumpek

Bertebaranlah menikmati karunia semesta alam

 

Jokowi Blunder Parah

Saya kira sudah pd puncaknya, pemahaman Jokowi tentang ketatanegaraan, terlihat dangkalnya. Aneh bin ajaib, kalau bukan sedang menggigau, ada pernyataan ” Pemimpin Negara itu perlu penglaman”.

Lupa dia, waktu nyalon jadi walikota, pengalaman pernah jadi walikota dimana? Lupa dia, waktu nyalon jadi gubernur, pernah pengalaman gubernur mana? Lupa dia, waktu nyapres dulu, pernah pengalaman jadi presiden mana?

Pemimpin politik itu, TIDAK PERLU pengalaman, ia hanya perlu mempunya visi misi yang jelas!!!. Gagasan kedepan.  Bukan prestasi masa lalu.

Beda dengan pemimpin karier, seperti tentara. Ada syarat syarat khusus, untuk sampai pada posisi Jenderal.

Jujur, saya tdk berani mengatakan dia itu tolol, tapi saya berani mengatakan, dia tidak faham membaca UUD 1945.

Dalam UUD 45 (yang diamandemen) secara tersurat tidak ada ketentuan harus berpengalaman dan berprestasi. Syarat berpengalaman secara tersirat, ada dalam kalimat “mampu secara jasmani dan rohani”.

Ini parah tingkat Dewa.

when an idiot makes up his mind

Teringat saat Presiden George Bush Junior dahulu harus mengambil keputusan, apakah akan menyerang Irak atau tidak. Diseluruh dunia, rakyat berdemo memprotes rencana serangan Amerika ke Irak tersebut. Ia karena soal dampaknya. Akan mengakibatkan banyak rakyat civil yang akan terbunuh. Menjadi korban yang besar.

Saya tanya kepada sahabat saya, Prof Hogan, Dosen Komunikasi di beberpa universitas di Sydney. Bagaimana menurut anda Tom, panggilan pribadi saya kapadanya, apakah George Buss akan menyarang Irak atau tidak?. Walaupun saya yakin, kalau Buss tidak akan berani menyerang Irak, karena akan menentang Negara-negara sahabat nya, seperti Australia, Inggris dan Negara-negara Eropah lainnya, karena tidak setuju menyerang Irak.

Apakah Jawaban teman saya Tom? “ Ali, an idiot decision is unpredictable”. Tegas sekali, kalau orang idiot itu keputusannya tidak bisa diprediksi.

Dan Yes, akhirnya America dibawah komando Buss, menyerang Irak hingga porak-poranda sampai sekarang!!!!.

Ilustrasi ini, saya terapkan kepada  Capres yang memilih Cawapresnya, yang hasilnya diluar diguaan semua pihak, walau sama sama namanya di awali dengan M

What is replacing President 2019 for?

If every president changes only the person, figure, then it means there will not be any significantly change. He is like a rolling wheel. Ordinary. So what is the change then for? Well, this is our problem. Understanding the root of the nation problems, which has made this nation not moved, which trigger the collapse of the nation and the unity of Indonesia. The vision and mission of every presidential candidates always have to be an in line with the constitution and answering to problem itself.

What is the root of the nation’s problems? Let’s start with the question, in which era of government, Indonesia can go forward, without violences, without verbal abuses, without the arrogance of the government to the people, the calm atmosphere and focused on the preparation to future generations, the environment is maintained.

Our history records that Bung Karno, the great leader of the revolution, was tipped down by the people movement. Pak Harto, Father of Development, has power up to 6/7 election times, applied modern concept development, the end must be stepped dow by the people’s pressure. Mr. Habibi, his accountability speech, was rejected by his own party. Gusdur, elected from the smallest party who and then finaly be impeached by his supporters. Megawati, though only briefly served the country, but loses a lot of state assets, which is only now felt, that the country is almost ruled by what it once helped with by the country’s money. SBY, twice as president, day after day did not escape from abuse. Even now. On the top of all that Jokowi; can break up mass organizations by issuing their own Presidential Decree. Because it is considered to be a competitor, then rule it again, when the governor who wants to be president, must be in his permission.

Then followed by vice president who wants to continue for 3rd periods, even bias from the constitution but he then start looking for legality Constitution Body anyway. It seems want to change the constitution as a mandate of reform 1998.

So what is the program that will be offered by the future Candidates, if it does not offer a change in the political system, then it means that Indonesia will let it in chaos and the people uncivilized.

Mengganti Presiden 2019

Bila setiap presiden berganti hanya orangnya, figure, maka artinya tidak akan ada perubahan apa-apa secara signifikan. Ia tak ubahnya bak roda yang bergulir biasa biasa saja. Jadi apa yang harus berubah itu? Nah, ini persoalan kita. Memahami akar masalah persoalan-persoalan bangsa, yang membuat bangsa ini tidak maju, yang memicu runtuhnya kesatuan dan persatuan bangsa serta keutuhan NKRI. Visi dan Misi setiap kandidat presiden selalu harus berorietasi kepada jayanya bangsa ini kedepan.

Apa akar masalah bangsa tersebut? Kita awali dengan pertanyaan, pada era pemerintahan siapa, Indonesia bisa melesat maju, tanpa kekerasan, tanpa caci maki, tanpa arogansi pemerintah kepada rakyat, suasana adem ayem konsen kepada penyiapan generasi yang akan datang, lingkungan hidup yang terpelihara, dst.

Sejarah kita mencatat; Bung Karno pemimpin besar revolusi itu, diujung jatuh oleh gerakan rakyat. Pak Harto, Bapak Pembangunan, berkuasa hingga 6/7 kali pemilihan, dengan konsep pembangunan yang luar biasa, diujung harus lengser, karenan tekanan rakyat. Pak Habibi, pidato pertanggung jawabannya, ditolak oleh partainya sendiri. Gusdur, terpilih dari partai yang suaranya terkecil, dankemudian di impeached oleh yang mengangkatanya sendiri. Megawati, walau hanya sebentar, tetapi banyak kehilangan aset negara, yang baru terasa saat ini, bahwa negara ini hampir dikuasai oleh yang dulu dibantu oleh duit negara tersebut. SBY, dua kali menjabat presiden, hari demi harinya tak luput dari caci maki. Bahkan sampai sekarang. On the the top of all that Jokowi; bisa membubarkan ormas dengan menerbitkan PP sendiri. Karena dianggap akan menjadi pesaing, lalu menetapkan PP lagi, bila gubernur yg ingin menjadi capres, harus seijinnya. Kemudian disusul oleh ada yang berkeinginan menjabat 3 periode, lalau mulai mencari fatwa ke MK. Ingin merubah konstitusi amanat reformasi.

Jadi sejatinya program apa saja yang akan di tawarkan oleh Capres-Capres yang akan datang, bila tidak menawarkan perubahan system politik, maka artinya Indonesia dibiarkan chaos dan rakyat dibiarkan tidak bermartabat.