Neraka itu Panas atau Dingin?

Oleh Ali Syarief

Kamis sore, 21/01/09, kami (Ali Syarief & Hendarmin Ranadireksa) berkunjung ke rumah Prof. DR. MT. Zein, di bilangan Dago – Bandung utara. Tepat pukul 16.30, kami tiba di rumahnya yang asri dalam dikesejukan angin sore dibelahan Bandung utara. Memang berkunjung kepada beliau, harus tepat waktu. Agendanya adalah konsultasi penerbitan Buku Putih, Pokok-Pokok Permasalahan Bangsa.

Mengawali pembicaraan, saya mengutarakan kesan saya, atas pernyataan beliau, saat Pak Zeinb ini menyampaikan sambutannya pada acara perkanalan dengan Kapolda Jabar, Pak Susno Duadji waktu itu, di Rumah Kang Hendarmin tahun yang lalu. Beliau mengatakan bagaimana orang Eskimo itu meyakini bahwa neraka itu “dingin sekali”. Sontak saja pikiran saya menjadi sangat terganggu, sebab keyakinan saya sebagaimana dalam Al-qur’an dinyatakan bahwa neraka itu diungkapkan dengan kata “Narun“ atau api yang artinya Panas, sehingga Neraka itu tentu Panas sekali. Tetapi kemudian saya teringat pada salah satu surat dalam Al-qur;an pula yang bunyinya ;” inna anjalnahu qur’anan Arabian la-allakum ta’qilun”, artinya “ Qur’an itu diturunkan dalam Arabian supaya kamu berfikir/menggunakan akal”. Nah..semula Arabian itu saya artikan sebagai “bahasa arab”. Tetapi kemudian, seiring dengan keyakinan saya, bahwa setiap kata dalam Alqur’an memiliki makna yang dalam dan arti yang sangat luas, maka kemudian Arabian itu saya terjemahkan menjadi Budaya atau culture!. Ini artinya bahwa pemahaman saya tadi menjadi sebagai berikut; “Al-qur’an itu kami turunkan dalam budaya orang Arab, supaya kamu berfikir”. Sementara ini menjadi tafsir yang pas buat saya!.

Inilah yang merubah mind set saya yang kemudian semakin memantapkan keyakinan dan sikap saya dalam memahami Al-qur’an selanjutnya.  Sebagai contoh, saya kemudian berpendapat seperti ini, Neraka itu tidaklah “Panas Sekali” atau “Dingin Sekali”, akan tetapi Neraka itu adalah situasi yang paling mengerikan atau yang paling tidak menyenangkan bagi manusia yang ada didalamnya. Begitu juga kemudian mengenai “Syurga”. Bagi saya didalam syurga itu adalah tidak ada wanita-wanita suci, buah-buahan yang manis-manis atau sungai-sungai yang mengalir didalamnya, sebagimana dilukiskan didalam Al-qur’an. karena kata lain Al-quran menyebutnya sebagai “ fahuwa amsal”, atau hanya sebuah “misal atau umpama” saja. Beginilah bagaimana cara Allah SWT menjelaskan kepada manusia supaya kemudian dapat difahaminya secara mudah oleh akal fikiranya (a’la qudri uqulihim).Sehingga definisi syurga itu bagi saya adalah sesuatu atau situasi yang sangat menyenangkan bagi manusia yang menempatinya.

Ilustrasi ini, sama seperti kemudian mayoritas umat islam memahami kewajiban membayar zakat itu dapat digantinya dengan beras, karena budaya kita memang manusia pemakan beras, yang kemudian menjadi lebih simple dan lebih bermanfaat, juga diganti dengan Uang. Kalau begitu kemudian saya berpendapat, bahwa berqurban juga tidak perlu harus dengan seekor domba. Bagi petani boleh juga dengan produk pertanian yang senilai dengan seekor domba tadi, atau ada juga yang berkurban dengan uangnya saja yang dibagikan. Kenapa demikian, karena memang ada keterangan yang lain menyebutkan; “bukan darah dan dagingnya yang kami terima, akan tetapi tergantung kepada niatnya”. Ini menjadi logis, jadi qurban boleh saja dengan seekor qibas, sayur mayur, atau dengan uang, sebab semua itu bukan prinsipil, yang penting substansinya berqurban itu adalah melakukan pengorbanan dengan niat iklhas karenaNya untuk membantu si miskin.

Advertisements

2 thoughts on “Neraka itu Panas atau Dingin?

  1. Nice thought!

    Ini sama dengan jalan pikiran saya, bahwa segala sesuatu itu jangan cuma dilihat pada apa yang tertulis, tapi yang tersirat, ‘read between the lines’.

    Sayangnya, banyak pihak yang tidak akan sependapat dengan pikiran seperti ini, what has been written, must be read as is.

    “Bagi saya didalam syurga itu adalah tidak ada wanita-wanita suci, buah-buahan yang manis-manis atau sungai-sungai yang mengalir didalamnya, sebagimana dilukiskan didalam Al-qur’an. karena kata lain Al-quran menyebutnya sebagai “ fahuwa amsal”, atau hanya sebuah “misal atau umpama” saja”, ini sangat sesuai dengan jalan pikiran saya, sebab misalnya saya maunya di syurga nanti pasangan saya itu adalah isteri saya yang sekarang, buat apa saya mesti mengejar syurga itu, kalau nantinya malah bidadari yang saya tidak kenal yang akan diberikan kepada saya?

    Thanks for the nice wording, inspirational.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s