Hendarmin – Adnan Buyung Nasution – Emil Salim – Me

as-buyungas-emilsalim

Professor Dr Emil Salim, (born in Lahat, South Sumatra, Indonesia, 8 June 1930) is an economist and former Minister of Indonesia. Born of Minangkabau parents, both from the village of Koto Gedang in West Sumatra. His uncle is Agus Salim, one of the founding fathers of the Republic of Indonesia and Minister of Foreign Affairs in the early 1950s.

Professor Salim graduated from the Faculty of Economics of the University of Indonesia in 1959. He then obtained a PhD degree in Economics from the University of California, Berkeley, and returned to Indonesia to a teaching position at the Faculty of Economics of the University of Indonesia in 1964. In 1977 he appointed the position Professor of Economic Development.

Professor Salim has held a number of governmental positions, including:

  • 1966: member of the team of economic advisers to President Suharto
  • 1967-68: member of the team of advisers to the Minister of Manpower.
  • 1967-1969: Chairman of the technical team of the Council for Economic Stability and a member of the Gotong Royong Parliament.
  • 1969: Vice Chairman of Bappenas (the National Development Planning Agency)
  • 1971: Minister of State for the Improvement of the State Apparatus.
  • 1973-1978: Minister of Communication
  • 1978-1983: Minister of State for Development Supervision and the Environment
  • 1983-1993: Minister of State for Population and the Environment.
  • 2007-present: Member of the Advisory Council to President Yudhoyono, as the adviser for environment and sustainable development issues.

Professor Salim has chaired the Foundation for Sustainable Development and the Kehati Foundation, and co-chaired the United States-Indonesia Society. He is a member of the Association of Indonesian Moslem Intellectuals.

Advertisements

Ngeureuyeuh

wichong

Adalah Wie Chong namanya. Orang China. Teman saya waktu kecil. Saya tidak melihat dia sekolah selesai hingga SMP. Saya maklum dia tidak tamat sekolah, karena orang tuanya memang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya. Ia, kakak-kakaknya dan adik-adiknya, sehari hari hanya bekerja membantu di Toko besi dan sekaligus rumahnya milik orang tuanya. Toko besi itu menjual paku. cat, seng. dan alat-alat bangunan lainnya. Waktu itu makan keluarga, masih kadang-kadang bubur saja.

Itu cerita 35 tahun yang lalu. Kini Wie Chong, masih tetap jualan seperti yang lalu. Tempatnya juga masih disitu. Tapi yang bebeda sekarang adalah, perputaran uangnya tiap hari bisa ratusan juta rupiah. Tanah didepan tokonya sudah dia beli, dan dijadikan gudang untuk stock barang2nya. Kakak-kakaknya juga punya Toko lain di daerah yang berbeda. Semenntara adik-adiknya juga sudah punya Toko sendiri sendiri. Wie Chong boleh jadi berangan-angan lebih dari apa yang sudah dia raih sekarang. Tapi apa yang ia lakukan? Ia hanya melanjutkan usaha orang tuanya, bersama kakak dan adik-adiknya. Karena kemampuannya memang hanya disitu dan situasi juga, saat itu, memang Wie Chong tidak mungkin jadi PNS, Militer, apalagi mimpi jadi Menteri. Tapi yang ia lakukan hanya satu yaitu “ ngeureuyeuh” dagang punya orang tuanya. Ngeureuyeuh itu, kata lain dari mensyukuri karunia Tuhan. Ia adalah teguh, ulet dan serious. Inilah sunnatullah/hukum Allah, maka kepada Wie Chong berhak menerima reward dari Allah, yaitu ditambahnya nikmat rizki yang berlipat ganda kepadanya bersama saudara-saudaranya.

Ngeureuyeuh versus Do’a

Ini cerita masih 35 tahun yang lalu. Ustadz Aceng, almarhum, teman karib Ayahanda saya, tiap hari kerjanya mengajar (pengajian). Saya masih ingat beliau biasa menggunakan sepeda ontel. Sudah pasti tentu saja ada bab bagaimana berdo’a supaya di kabulkan oleh Allah. Karena menurut faham kita Do’a adalah jalan pintas, untuk mencapai tujuan yg kita inginkan. Bulan lalu, saya bertemu dengan Putranya. Sepertinya dia, Ustad Adang, begitu orang memanggilnya, juga seorang ustadz melanjutkan titisan orang tuanya, yaitu masih sebagai juru do’a..

Pertanyaan saya adalah, benarkah memaknai do’a itu seperti yang ada saat ini dalam benak kita? Yang Qun fayaqun! ( be and it is – jadi maka jadilah). Do’a adalah keajaiban, dlsb.

Dua gambaran sosok diatas itulah yang kemudian saya renungkan dengan merujuk kepada Al-qur’anulkarim, sehingga kesimpulan saya menjadi seperti ini ;

 1. Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri merubahnya. Strateginya “ ngeureuyeuh” itu tadi, yang dalam bahasa qur’an yang lain disebut sebagai “shabar”. Step by step, begitulah hukum Allah. Tidak pernah ada kejadian seorang bayi begitu lahir kemudian serta merta bisa berbicara. Jadi qun fayakun itu konteksnya adalah suatu proses.

2. Do’a adalah strategi akhir setelah manusia maksimal melakukan ikhitiarnya. Karena berjuang dengan do’a adalah selemah lemah orang yang beriman. Kata baginda rosul; Ubahlah kemaksiatan itu dengan kekuasaanmu, bila tidak mampu, dengan lisan mu, bila tidak mampu juga maka berdo’alah. Itulah selemah lemah orang yang beriman!.

3. Karena itu marilah do’a itu kita fahami dan tafisrkan dalam paradigma baru yaitu a vision. Cita-Cita. Cita cita itu harus selalu kita utarakan setiap saat kepadaNya, supaya masuk dalam otak bawah sadar kita, sehingga kemudian menjadi sikap dan memfokuskan gerak lankah sehari hari untuk mencapai visi itu. Oleh karena itu menjadi benar adanya, sebagaima Tuhan mengatakan berdo’alah niscaya akan kami kabulkan tapi “fastajibuli” (penuhi dulu syarat-syaratnya). Apa itu fastajbuli? Adalah ikhtiar. Dan sebaik baik icktiar adalah “ngeureuyeuh”. Semoga bermanfaat.