Belajar dari masa Lalu –“Saling menertawakan” Suku Korowai Papua

Belajar dari masa Lalu –“Saling menertawakaan”

Suku Korowai Papua

Oleh Ali Syarief

Untuk bisa berjabat tangan dengan “Nati”, kepala suku Korowai di pedalaman Papua, hampir tidak mungkin bila tidak mengeluarkan uang sekurang-kurangnya Rp. 115 juta. Karena tidak ada reguler flight dari Sentai ke Yani Ruma, maka harus charter pesawat dengan biaya Rp. 105.juta rupiah pp. Tapi  tidak penasaran ketika kita sudah sampai di wilayah dimana suku Korowai hidup, karena banyak pelajaran yang dapat kita petik dan makna kehidupan yang dapat kita simak. Rasa lelah bercampur letih, karena disamping harus naik pesawat selama 1.5 jam, dilanjutkan dengan kanu 1,5 jam menelusuri sungai-sungai, baru kemudian dilanjutkan  dengan perjalanan kaki hingga 2.5 jam lagi menelusui belantara hutan lebat Papua, hilanglah lelah-letih  saat berjumpa dengan mereka. Ancaman nyamuk malaria yang tak henti-hentinya,  bermacam serangga seperti lalat dan bau badan suku Korowai, serta cuaca panas-menyengat disertai udara yg humid  kering disiang hari, menjadi karakteristik  tersendiri disini.

Belum juga sampai disuatu tempat dimana biasanya pengunjung berkumpul bersama suku Korowai, katakanlah semacam base camp begitu-gubug tua berukuran 10M X 5M, kami sudah disambut oleh empat orang Korowai dengan busur panah yang siap menembus dada kita. Bila saat sambutan mereka itu kita beraksi yang mencurigiakan mereka,  maka sok pasti anak panah tadi, karena tak kenal ayat pembunuhunan KUHP,  bisa saja menghunjam tubuh kita. Baru setelah juru bahasa kami, Pak Sendek-mantan kepala kampung disana,  mennjelaskan maksud kedatangan kami, maka mencairlah suasananya itu menjadi persahabatan. Tertawa bersama, bagi-bagi rokok, dan saling memperhatikan satu sama lain, adalah saat kita becengkrama dengan mereka.

Korowai adalah suku yang hidupnya di rumah tinggi, kadang-kadang ketinggian rumah hingga 60 meter dari atas tanah. Ada rumah yg di bangun memang diatas pohon, atau juga di atas rumah panggung yang tingginya bisa hingga 20 meter. Ada beberapa alasan mengapa mereka membuat rumah sangat tinggi dari atas tanah. Pertama memang menghindari dari serangan atau ancaman musuh. Kedua biasanya juga untuk strategi berburu, karena dapat dengan leluasa mengontrol babi hutan yang berkeliaran di bawah dekat rumah mereka, Jadi bila ada binantang buruan mendekat tinggal menbidikan busur panahnya saja. Dan ketiga alasan lain, tentu saja karena adat yang telah lama turun menurun hingga merasa menjadi value tersendiri bagi mereka, disamping karena faktor alam, membuatnya menjadi lebih nyaman (comfortbale), Walau hanya menggunakan sebatang pohon kecil yag portable, tidak ada masalah bagi mereka ( kakek, nenek, anak kecil, ibu hamil atau Ibu menggendong bayi, untuk  naik turun ke rumah mereka. Termasuk didalam rumah diatas pohon itu, menyalakan api atau apa saja lazimnya orang didalam rumah dalam batas-batas tertentu.

Yang menarik  kita tela’ah adalah persepsi orang-orang seperti kita, yang sudah merasa berperadaban lebih tinggi dari mereka dan yang memadang mereka bahkan terbelakang. Coba kita simak ini, Tidak ada rumah sakit disana, kerana mereka memang manusia-manusia yang super kuat, alias telah menyatu dengan alam. Jadi tidak ada alasan kalau alam menyebabkan penyakit kepada mereka. Malah sebaliknya, Alam adalah sumber kehidupan dan kesehatan yang langsung mereka rasakan. Karena kesadaran akan fungsi-fungsi alam sangat mereka jaga, supaya bisa survive. Mereka tidak perlu lumbung untuk menyimpan makanan, karena alam mereka telah menyiapkannya dengan sangat sempurna dalam suatu proses evolusi eko system. Karena itu, mereka menjaga secara sadar akan kelestarian sumber daya alam tersebut dengan membuat norma-norma pengelolaan sumber daya alam yang efektif, termasuk regenarasi sumber-sumber makanan mereka seperti menanam pohon sagu.. Tidak boleh menebang jenis pohon tertentu. Tidak boleh menangkap ikan di sungai-sungai dengan zat beracun, kecuali dengan busur atau dengan alat pancing biasa. Sangat melarang menangkap burung Cendrawasih, termasuk berburu babi dengan jenis kelamin tertentu dan umur-umur tertentu dst.

Tidak ada radio, televisi atau media film hiburan lainnya. Mereka hanya menikmati tiupan angin yang menghempas daun-daun pepohonan. Kiciuan symphotni suara-ruara burung bernyanyi-nyanyi, melantukan lagu alam khas korowai,  dinikmatinya sebagai bagian dari  properrti kehidupan sehari-hari. Adat yg tumbuh antar suku, menjadi konvensi masing-masing, yaitu tidak boleh merusak wilayah adat dan geografis otoritasnya mereka. Pelanggaran adat bisa saja berkorban jiwa manusia atau tebusan dengan babi-babi, Kebanggaan akan banyaknya jumlah anggota suku menjadi proudness tersendiri, sehinggga banyak istri dan anak menjadi value tersendiri dalam sistem sosial korowai. Yang menarik memilih istri-istri baru, bukan karena kencatikannya, tetapi karena keterampilan mencari bahan makanan atau keahlian hidup lainya yang menyebabkan seorang lelaki menjatuhkan pilihan kepada seorang wanita untuk di kawininya.

Saya tidak akan terlalu banyak menulsi kisah mereka, tetapi kesimpulan saya, jangan menganggap rendah kepada mereka, jangan menganggap miskin kepada mereka, jangan menganggap kepada bodoh mereka. Kita bahkan bisa  saling menertawakan dan mereka bisa juga respek kepada kita.

Advertisements

15 thoughts on “Belajar dari masa Lalu –“Saling menertawakan” Suku Korowai Papua

  1. Kudos to travel dedicated Bung Ali in the jungle of Papua, very inspiring. Hopefully up to the goal…
    Bravo Bung Ali…

  2. menarik sekali mas ulasannya, membantu saya lebih memahami ada istiadat suku korowai. Setidaknya terlalu berlebihan bila mereka kudu di “judge” sebagai suku kanibalisme, tanpa ada penelusuran lebih detail.
    Makasih banyak sharenya…

  3. Sorry Sir….I copied some pictures to Komunitas Garut Tasikmalaya before asking You….I hope You not mind…forgive and huge thanks…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s