Jakarta Madness

The drums roll, signifying something is going on outside the Wayang Museum in Old Jakarta. I get up from a stall where I am eating ketroprak – a popular rice noodle dish served with chips, peanut sauces and sweet soy bean ketchup – and take a look.

A monkey zooms by on a toy motorbike. The trainer tugs hard on a long chain to give the dare devil monkey some momentum, and the crowd quickly disperse. It seems the puppeteer is the one terrorizing everyone along its path, as the crowd again quickly disperses.  The monkey crashes into a cart, and the crowd gives nervous smiles.

Monkey troubadours are quite popular fair in Jakarta, and usually are brought in from the poorer suburbs of the city, where tips are guaranteed.
Old Jakarta is not only a National Heritage site but it’s the playground of the Indonesians, “the heart and soul,” says social critic, Ali Syarief: “ Old Jakarta is a place that we learn from the past and learn to criticize what has been happening in current situation. “

The shows are less than politically correct.  Nearby in the main courtyard, a human circus is underway. A young girl is sealed and stitched up in a hemp bag like a mummy. She  stands frightened as a man who makes Indiana Jones look tame, is wielding his large whip and making deafening cracking sounds.

She is carried like a bag of spuds and put underneath a red tent. The sadist wields his whip again. Crack!!!  And the tent is uncovered and the young Houdini is out of her straight jacket. A man walks around with a hat, and spectators drop donations. Not to be outdone, the duo, father and daughter, are now blowing fire. Flames cut across the courtyard and petrol fumes and mingle with the smells of clove cigarettes and deep-fried Indonesian snacks that pervade the air.

The young girl plays up to the crowd and runs her flame stick between her legs, all smiles. And I’m thinking, is this some kind of Salvador Dali painting I’m inhabiting. 

Nope, says and inner voice. This seems very normal for Jakarta. And it’s confirmed when I visit the Wayang Museum. After seeing a great selection of Wayang puppets, I go to the show to buy a few souvenirs. The retail assistant asks me if I am Russel Crowe. “You look so big!” Then he goes on about his male assistant who is in the corner, telling me he’s an exotic dancer. “See these puppets? “ – he’s holding up two lead figures of the Ramayana, “They are Romeo and Juliet.” I buy them and head out of the museum.

A quick rest at a street stall, then some Indonesian mariachis come up to the table and play a Mexican song.  Be prepared to be surprised in Old Jakarta, and have your senses rattled. It’s a sensory overload,  or as Hemingway might say, “A veritable feast!”

Ayat-ayat Toleran

Ada dua statemen yang diartikan sebagai sesembahan manusia didalam al-qur’an; Pertama kata “Rab” dan yang kedua kata “Allah”. Dua-duanya adalah bisa kita sejeniskan sebagai “Tuhan”. Coba kita simak ayat  berikut: “ya ayuhannas  ittakurobbakum”, yang artinya “hei manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu”.  Lalu ayat lain adalah : “ya ayuhaladzina amanu ittakullah”, yang artinya “hey orang-orang yang beriman bertaqwallah kepada Allah”.

Dua ayat tersebut adalah amar atau perintah didalam al-qur’an, yaitu kepada seluruh manusia untuk bertaqwa kepada Tuhannya, dan perintah yang kedua kepada yang beriman untuk bertaqwa kepada Allah. Jadi disini tampak  jelas, al-qur’an memerintahkan untuk bertaqwa kepada Tuhan dan kepada Allah. Jadi  artinya siapapun sesembahan manusia tidak di pedulikan disini.

Dalam terminologi yang sederhana, taqwa artinya melaksanakan perintahnya dan mejauhi larangannya.

Inilah ayat tolerasnsi. Ayat yang harus di fahami sebagai tidak saling menyalahkan antar umat beragama. Ayat yang harus menjadi sikap respek dan apresiasi kepada keyakinan yang berbeda-beda itu. Inilah ayat yang menjelaskan bahwa manusia tidak  berkeyakinan sama. Inilah ayat yang harus menjadi mindset, khusus nya kepada umat Islam, untuk melihat bahwa Tuhan di luar Allah adalah  sama saja. Inilah ayat yang harus menjadi sumber untuk merumuskan berbagai kebijaksanaan Negara.

Benar ngga yah?

The Crazy Bule

Suka Suka Suka, Do you have Facebook?

I met an Indonesian blogger and journalist, Mr. Ali Syarief. He suggested I write a blog post on Facebook and “Like” and said he would post it on his blog to help promote my story and get me more likes. I said I’d write up 500 words so here it is:

I am a travel writer for Trip Atlas. Recently the editor of this travel hub that gets over a million hits a day sent out an email to all contributors announcing a competition.  I rose to the occasion and wrote a travel feature on sky diving in Perth.

Over the weeks I had asked people on the street to click the Facebook ‘Like’ button on my story. Most of the people I asked were fellow travellers who were staying at the same back packers.

I had booked a ticket to Bali. I arrived on the 20th of October. My like count was around 230 but fell far short of the 500  I needed to actually win an Ipad 2. The leader was a female writer from Canada who wrote a story on dog sledding.
It seemed she had the backing of the whole Canadian Tourism Industry while I was doing it alone. To get my like counts, I had physically ask people to log into their Facebook on my computer and click the like button on my story which was then posted onto their wall. It has worked so far.

While in Bali last week, I managed to get another 200 likes, which really put me close to the lead. But Sarah Sekula’s ‘likes’ were still way ahead of me.

I really don’t need an Ipad 2. I have met wonderful Indonesians while asking them to click like. I was hanging outside a Circle K on the beach; place only locals went to. I would go around from table to table and begin with: “Excuse me, can you please help the crazy bule?” As I found, Indonesians are always helpful and found this bule to be a bit bold and funny. Every ‘suka” I got, I would ask their names and we’d have a nice little chat. .  Most time they’d put a Bintang in front of me. One night some local Balinese came up to me with a bottle of Tequila. A few ‘likes’ and shots later, I was almost under the table. But that didn’t stop me asking fresh Indonesian customers who stopped off at Circle K for one last drink. One Indonesian man was so impressed with me; he had his wife take a picture of me with him, saying, “He’s the sky diver!”

Another night I as offered arak. The next day I had a horrible hangover so decided to get a flight to Jakarta. At this point, I had 400 likes, and need another 100 to win an Ipad. I knew if I went to the capital city I would get a few more likes. And only yesterday, while spending my Sunday in Old Jakarta, I met Ali at the Bavaria. The first thing I asked him was if he had Facebook, then I went through the ritual of getting my ‘suka’. I was surprised to find that he was a journalist himself, and our friendship began from there. So if you are bored and need to spice up your life, just ask a stranger on the street, “Do you have Facebook?” It works all the time!

Tiramakasi Indonesia and a big thanks to Ali for hosting this piece.I currently have 558 like and would like more!


Iman a’la Softex

Saya percaya anda membaca tulisan ini karena judul tulisan ada softexnya, hehehehe. Tapi ada kata imannya!?. Ada nyerepet-nyerepet ke porno sich. Baca!, Porno sebagai buka-bukaan. Sebernarnya ini persoalan semantic. Fenomena pembentukan Opini Umum. Contohnya orang menyebut Pompa Air dengan Sanyo. Apapun mereknya, orang mengatakan tetap Sanyo. TransJakarta, disebut Bus Way. Tapi hemat saya memilih kata Softex lebih pas  dengan judul uraian ini. Mengapa? Karena begitu juga pada umumnya orang menyebut Pembalut Wanita sebagai “Softex”. Nah sekarang saya tinggal menjelaskan apa yang dimaksud dengan judul diatas tersebut.

Yu..kita urut kebelakang. Dari siapa anda tahu bahwa Al-qur’an itu firman Allah? Anda kan tidak pernah mengadakan penelitian. Anda tidak pernah bahkan mengerti juga isinya, kecuali katanya!. Menurut da’wah Ustadz Jeffry. Bahkan ada banyak orang malah, membacapun tidak bisa, apalagi menafsirkannya. Tetapi semua tentu mengatakan bahwa Taurat, Zabur, injil dan Al’qur’an adalah firman Allah. Alkitab adalah wahyu Tuhan Jesus. Kitab Purana adalah tutur Sangyang widiwase, dst.

Allah juga tidak pernah kita dengar mengatakan, bahwa aku telah berfirman kepada Muhammad SAW, kecuali kata beliau sendiri :”tadi malam aku kedatangan Jibril, kemudian mewahyukan ini, dst…”. Kira-kira gitulah.

Nah..jadi karena ada lebih dari Satu Milyar orang mengatakan Al-qur’an itu firman Allah, kata orang Islam. Ak-Kitab itu Firman Tuhan Jesus, kata orang Kristen. Purana itu ucapan Sang Yang Widi Wase, kata orang hindu, dst. Maka Jadilah semua itu firman Tuhan

Sekarang anda uji, berani ngga mengatakan : “ Al-qur’an itu karangan Muhammad?”. Atau Injil itu, rekayasa Matius, Markus, Lukas dan Yohanes? Saya sich Nggak berani, takut di babat sama FPI.

Inilah yang ingin saya katakan “Iman a’la Softex isme”.


Allahu Akbar itu Membesarkan atau Mengecilkannya

Kelihatannya membacakan “Allahu Akbar”, menjadi multi maksud. Ketika Moamar Gadhafi, tertembak, kemudian ditangkap dan meninggal, rakyat Lybia meneriakan yel-yelnya dengan “Allahu Akbar”. Waktu algojo arab pemancung kepala manusia menyelesaikan tugasnya, kemudian kepala manusia itu terkulai jatuh terpisah dari badannya, maka penonton juga membacakan “Allahu Akbar”. Ketika segerombalan manusia berseragam putih, menyerang tempat perjudian, perjinahan, hotel-hotel mesum, mereka juga berteriak-teriak sepanjang jalan dengan “Allahu Akbar”.

Cara membangunkan emosi massa dan menggalang kekuatan, seperti yang kita saksikan pada saat kampanye Pemilu atau Pilpres juga tak luput dari ungkapan Allahu Akbar. Ini Allahu Akbar untuk kepentingan Politik. Ketika FPI menggempur tempat-tempat maksait, dan menghancurkan masjid jamaah Ahmadiyah, juga dengan yel-yelnya “Allahu Akbar”. Ini Allahu Akbar untuk moral dan aqidah. Ketika Husni Mubaraak tertangkap, Sadam Hasen mati., rakyatnya juga meneriakan yel-yel “Allahu Akbar”. Ini Allahu Akbar untuk expressi kebahagiaan masyarakat.

Arti dari Allahu Akbar itu adalah Allah Maha Besar. Jadi maknanya, kalau kata Allahu Akbar itu dipaketkan dengan kata “ar rahman” (kasih-sayang), umpamanya, maka artinya menjadi Allahu yang  maha kasih sayangnya sangat besar. Contoh lain kalau Allahu Akbar itu diikuti dengan kata Al Gofur, maka artinya Allah yang maha besar ampunannya itu sangat besar. Dan seterusnya.

Apa Arti "Allahu Akbar", ketika dia mati ntertembak!?

Lalu apa maksudnya dan artinya, ketika Ghadafi tewas, lantas orang berteriak Allahu Akbar? Lalu apa maksudnya Amrozi dan Al Gufron,Cs, usai membunuh ratusan orang yang tak berdosa dan setiap kali dihadapkan di sidang pengadilan meneriakan yel-yel Allahu Akbar? Lantas kenapa pula ketika anggota FPI tawuran dan melakukan sweeping juga meneriakasn yel-yelnya Allahu Akbar!?.

Seingat saya waktu kecil, membacakan Allahu Akbar itu, ketika mau sholat, ketika adzan dan waktu takbiran dengan rendah riuh serta hidmat. “Walitukabirulah ala mahadakum”, dan besarkanlah Allah yang telah memberi petunjuk, al-qur’an..  Tafsirnya seluruh kehidupan dan  jiwa kita harus dikuasai sepenuhnya oleh kebesaran-Nya. Takut.  Sekarang sudah berubah. Kalimat “Allahu Akbar” itu, ada disetiap ranah kehidupan yang berbeda-beda kepentingan.


Stand out pretty well, not too extreme

Ini soal sikap atau berperilaku. Ketika ada sesuatu yang aneh, nyeleneh atau extra ordinary orang berhak tertawa dan menertawakan. Ini umum terjadi dimana-mana. Karena itu Muhammad SAW memberi advice supaya berada di posisi yang tidak ekstrim baik kekiri maupun ke kanan. Siger tengah!.

Photo dibelah kiri ini adalah salah satu bentuk satire, karena menggunakan cadar sebagai sesuatu yang tidak dapat di fahami oleh akal sehatnya. Boleh, wajar dan aneh disuatu tempat, bisa jadi berbanding terbalik di tempat yang lain. Social values itu, berbeda dari satu komunitas dengan komunitas yang lainnya.


Lia Eden, mengaku sebagai sang Nabi baru. Ini blunder besar mengaku sebagai seorang Nabi ditengah-tengah mayoritas umat Islam, yang aqidahnya “la nabi ya ba’da”, tak ada lagi nabi setelah Muhammad SAW. Kalau masyarakat mengakuinya, jadilah dia Nabi yang dipercayainya, tetapi karena masyarakat menolaknya, maka setiap yang keluarb dari mulutnya akan dianggap nyeleneh dan menjadi bahan tertawaan orang.

Ruhut Sitompul, politikus kita yang beken karena perilakunya dianggap ekstrim itu, membuat orang termehek-mehek. Statemen-statemennya nyeleneh, sebab kebiasaan mengagung-agungkan Presiden itu hanya terjadi dan kebiasaan di era Orba, kepada Presode Suharto dahulu. Tetapi Ruhut Sitompul melakukan hal tersebut, saat orang sekarang sedang mengubah paradigma tersebut.

Saya ingin akhiri tulisan ini dengan mengutip quote seperti ini :
Stand out pretty well, not too extreme

Semoga bermafaat.

Mass Rapid Transport

Jalan Kerata Api warisan Belanda, yang pada saatnya di bangun dahulu lebih panjang dari Kalan Kerata Api yang ada di USA, yang ditinggalkan Belanda ratusan tahun yang lalu, tidak pernah bertambah panjangnya. Malah di beberapa daerah berkurang panjangnya. Jalan darat tumbuh dan berkembang tetapi tidak bisa mengimbangi pertumbuhan produksi kendaraan baik roda empat maupun roda dua.

Jalur laut yang di negera-negara lain, adalah jalur ekonomis yang sangat menguntungkan, terutama bagi dunia usaha, di Indonesia menjadi idol, seolah-olah bagai si anak tiri yang tak berguna apa-apa. Satu-satunya yang berkembang dengan cukup signifikan, adalah jalur udara walau belum sepenuhnya memenuhi harapan rakyat banyak, karena masih mahalnya harga tiket dan jalur penerbangannya yang masih terbatas.

Pengalaman terkahir, di German, Praha, Tokyo dan Singapore, tidak dapat saya jelaskan disini satu persatu, kecuali acungan jempol kepada masing-masing Negara yang telah memperhatikan rakyatnya dengan sangat sungguh-sungguh dan serious!.

Amanah. Sebagai satu perbandingan saja, dari Changi Airport ke salah satu Hotel di daerah Little India; anda bisa pilih mau naik Bus, MRT atau Shuttle bus dan taxi dengan berbagai pilihan mobilnya hinnga ke limosine. Nak Limosine dikenakan biaya $50, Naik Alphard $45, Naik Shutlle Bus $9/per orang dan kalau naik MRT hanya $2.2/perorang. Rata-rata MRT di Singapore digunanakan oleh 2 juta orang perhari, padahal penduduk Singapora hanya 3.5juta orang.

Begitu juga di Tokyo, Public transport seperti Subway (Kereta Bawah Tanah), Bis kota, adalah pilihan transport rakyat yang sangat murah, tetapi sangat nyaman dan aman serta tepat waktu. Di Tokyo bila kita ketinggalan KA, tidak perlu risau dalam dua menit yad, akan datang lagi KA berikutnya. Karena itu janji di Jepang tidak akan delay hingga lebih dari 5 menit.

Di German dan Praha, bila tidak malu, anda tidak perlu beli tiket subway atau Tram, karena sistem dan kontrol yang teramat longgar dari pengelola KA tersebut. Gambaran simple di Praha naik taxi dari Central Station KA ke Hotel biayanya dikenakan 390 Pr, sedangkan bila naik Tram dan Subway hanya 48P. Jalan-jalan putar-putar kota Praha hanya dengan 24 Pr saja.

Begitulan Negara orang memperhatikan kepentingan rakyatnya. Transportasi publik itu di design sampai bisa menghubungkan berbagai lokasi yang menjadi tujuan masyarakat, aman dan nyaman, dan tidak kalah pentingnya adalah murah biayanya, serta ada opsi public transport lainnya.

Sekarang coba baynagkan dengan Metro Mini, Kopaja, Mikrolet, Bajaj dan Bemo, dst?

Aheng Harengheng Pulitik

Aheng Harengheng artinya hingar bingar atau dalam bahasa Inggrisnya Chaos. Inilah yang ingin saya beri lebel kepada UUD 1945 kita. Mari kita baca sejarah, dari sejak Jaman Bung Karno hingga SBY kejadiannya seperti ini;

Jaman Bung Karno, berapakali kita gonta-ganti UUD, hingga akhirnya melalui dekrit presiden, kembali lagi kepada UUD 1945. Tetapi produknya kemudian, Bung Karno mendeklarasikan Presiden hingga seumur hidup. Hanya terjadi satu kali Pemilu tahun 1955 dan akhirnya Bung Karno harus turun melalui gerakan coup G30S/PKI 1965, yang beliau wafat dalam keadaan sangat mengenaskan.

Jaman Pak Harto. Mungkin Pak Harto sadar akan pentingnya UUD dan kekeliruan masa lalu, maka UUD` 1945 dianggap satu-satunya yang bisa membangun bangsa ini. Pak Harto merumuskan kembali system kepartaian, hingga menjadi 3 Partai peserta Pemilu. Pemilu berjalan 5 kali tetapi yang dipilih hanya 1/3 dari seluruh anggota DPR/MPR RI, dan 2/3 diangkat Kepres. Ini sesuai dangan UUD 1945, Pak Harto terpilih hingga 5 kali sebagai Presiden, walau kemudian harus turun juga secara tragis oleh gerakan mahasiswa pro reformasi.

Jaman Pak Habibi. Pak Habibi dipilih bersama Pak Harto melalui sidang MPR RI, dan sesuai dengan UUD 1945, maka ia melanjutkan estapeta kepresidenan, karena Pak Harto lengser. Tetapi sesuai dengan UUD 1945, laporan pertanggung jawaban Presiden Habibi di tolak oleh partainya sendiri di MPR, hingga dia tidak bisa di pilih kembali dalam pilpres berikutnya.

Jaman Gusdur. Sesuai dengan UUD 1945, Gusdur bisa-bisanya terpilih. Maaf. Beliau kan secara pisik sejatinya harus gugur. Tetapi Gusdur yang datang dan disusulkan dari Partai yang kecil (PKB) justru memenangkan Pilihan Presiden. Ini bertolak belakang dengan Fatsoen!. Dalam system Parlementer, sejatinya, Partai Pemenang Pemilulah yang harus memimpin pemerintahan. Karena UUD 1945 pulalah, Gusdur akhirnya juga di impeached.

Jaman Megawati. Karena UUD 1945 juga, akhirnya Megawati tampil sebagai Presiden, dan didampingi oleh wakilnya Hamzah Haz. Tetapi usai tugasnya sebagai Presiden dan wakilnya, keduanya turun bersaing merebut kembali rebutan kursi no 1.

Jaman SBY-JK. Jaman ini UUD 1945 sudah di amandemen hingga 4 kali. SBY kemudian bisa lolos jadi Calon Presiden dari partai yang hanya 6% raihan kursinya di DPR, padahal syaratnya menurut UU untuk menjadi calon Presiden harus sekurang-kurangnya memiliki 25% kursi di DPR. Jk sendiri sebenarnya bukan dari Golkar, tetapi calon independen. Nah..muncullah, produk UUD 1945 yang telah di amandemen, koalisi partai-partai, sehingga keduanya bisa lolos jadi Paket Capres dan Cawapres. Padahal koalsi partai-partai hanya terjadi dalam system Parlementer, sementara UUD 1945 yang sdh di amandemen menyatakan system politik kita diartikan sebagai system Presidetial!. Akhinrya, setelah lima tahu bersama, karena UUD 1945 yg sudah di amandemen juga, SBY dan JK harus bercerai berai dan kembali berebut kursi no 1.

Jaman SBY-Budiono. PD meraih lebih dari 25% kursi di DPR, sehingga tanpa bergabung dengan partai lain pun beliau cukup syarat untuk bisa maju tanpa pendamping wapres dari ex partai lain. Dan akhirnya SBY-Budiono mutlak menang dengan raihan suara lebih dari 60% dalam putaran pertama. Luar Biasa dukungan Rakyat kepada SBY. Tetapi partai-partai, entah atas nama siapa, karena rakyat tidak memilih partai, menuntut haknya untuk menjadi Menteri dalam kabinet system Presidentia!l.

Koalisi Partai-Partai terbentuk, PDIP deklarasi out of the Box alias opisisi dan di DPR terstruktur fraksi-fraksi Partai. Situasi ini hanya terjadi dalam system Parlementer, yaitu apabila rakyat memilih Partai Politik. Ketika kita menggunakan system parelementer, waktu kita memilih Partai-Partai, di DPR malah tidak terjadi opisisi. Semua adalah pro pemerintahan. Saat kita menentukan Presidential, dimana tidak ada oposisi dan kolasi, terbentuk koalisi dan opisisi.

Aheng Harengheng (chaos) produk UUD 1945.

Driving Philosophy in East and West

After sunset, suddenly I heard “punteeeeeen”, his voice was a bit harsh but funny. When I open the door of my living room, found that He my neighbor, Prof. David Mc Cullum, who was about 6 years living in northern of Bandung. He asked me to look for the book “how to Drive Safely in Indonesia”. I smiled to hear that!. What happened Dave? I asked. “I really confused to drive here Ali”, he complained. Indeed, I initially suspected this poor Caucasians, because his car dented marks on collision and the crash. I sometime call him Dave or daud in bahasa, did not want to buy a new car, because almost every time he drove complaining he was so nervous and stressful.

“I love to stay here Ali. People smiled to me everywhere. But when I drove it was so horrible “, continued David.

I, finaly awakened, when it was in German last month, talking about safety driving with my friend Mr. Greg Wagner (German guy). So apparently the Indonesian way of thinking is very different from the Western way of thinking, when driving. It is about Philosophy concept.

In the Western world generaly, when someone is behind the wheel and obey all traffic signs, then he will find it has become a King. This is my way!. So he did not care who is behind, the front or side, which is most importmost to keep driving and keep the rule. That’s it. So the driver was just thinking how to “save himself”, so that nothing bad happened!.

Well, while in Indonesia is different. When someone sit behind the wheel, first of all of course has to follow the traffic rules and the latter should always be vigilant and cautious, lest a sudden there are people who cross in front, suddenly there are cars entering from the left or right ,etc. So the driver must be very careful how “to save others”, in order to avoid a collision.

Unfortunately David Mc Cullum is back living in his habitat, in the state, so I can not advise him, but my mind is on justified by Mr. Wagner.