Ketika Burung Gagak Berubah Warna-Kebenaranpun Sirna

Salah satu cara manusia menentukan kebenaran adalah berdasar kepada opini umum. Misalnya, bila ada yang mengatakan satu juta orang  bahwa burung Gagak itu hitam warnanya, maka orang yang ke satu juta satu juga akan mengatakan bahwa burung gagak itu hitam warnanya.

Persoalan yang kemudian muncul adalah, ketika ada burung Gagak tidak hitam, apakah karena albino atau karena perubahan genetika lainnya menjadi putih warnanya, maka ia sering disebut bukan burung Gagak lagi.

Inilah yang saya ibaratkan dengan model kita cara mentukan kebenaran. Kita tidak pernah riset, siapa Tuhan yang sesungguhnya. Apakah kita pernah mengadakan penelitian, kitab mana yang benar-benar datang dari Tuhan!?. Apakah benar nabi itu utusan Tuhan, dst. Tetapi tatkala ada Tuhan lain yang diajukan orang lain, maka pasti disebutnya dia bukan Tuhan. Ketika ada yang mengaku nabi lagi, maka di pasti nabi palsu. Ketika ada kitab yang bukan yang ia yakininya, maka kitab itu dikatakan bukan dari Tuhan. Kitab Palsu.

Yang model gagak hitam itu, saya ibaratkan kebenaran dengan cara turun temurun dan yang selanjutnya kebenaran yang didapat dari pihak lain karena mendengarnya. Maka jadilah Kebenaran  itu menjadi kebenaran  “biologis” dan kebenaran “katanya”.

Ulah Para Tax Eater

Ini kejadian, saat Presiden Obama pulang ke negerinya, usai menghadiri ASEAN Summit di Bali kemarin lusa. Salah seorang sahabat, seorang kepala Sekolah, men text saya via BBM, seperti ini bunyinya : “Pak Ali ssaya sudah 7 jam menuggu di waiting room Airport Ngurahrai Bali. tak ada kabar dan berita kepastian kapan pesawat akan menerbangkan saya balik ke Jakarta”, tulisnya. Sementara dari arah Kuta maupun Nusa Dua yang menuju Bandara, satu jam sebelum Presiden Obama tiba di Bandara, jalan-jalan sudah di tutup tidak boleh ada lalu lintas kendaraan bermotor apapun melintas. Istilahnya steril.

Kasus yangs ama tidak jarang juga, para pejabat kita, ditengah-tengah kemacetan yang sangat padat, mereka melaju tanpa peduli, dengan menggunakan fasilitas escort police atau “forider” istilah umum kita. Itu baru di jalan raya. Dimanapun, di Bandara, di Rumah Sakit, di tempat-tempat publik lainnya, para pejabat itu selalu mendapat privilege yang sangat istimewa.

Siapa mereka itu? Adalah para pemakan uang pajak (Tax Eater).

Beda dengan kita para Pembayar Pajak (Tax Payer). Di jalan macet harus bersabar. Sesekali ingin ke kamar kecil, harus bayar.  Bila sakit, pelayanan Rumah Sakit seperti ini;  obat, kamar dan pelayanan medis diukur oleh nilai duitnya.

Siapa sich sebenarnya yang paling berhak di negeri ini, Para Pembayar Pajak atau Pemakan Pajak!?