Walau Tak Bermimpi Menjadi Presiden

coutesy from YahooKalau ku diberi kesempatan seolah-olah sebagai Presiden Semnetara, kemudian aku memimpin sidang kabinet, maka agenda saya adalah bertanya kepada para menteri: “saudara-saudara, saya sudah mempercayakan kepada kalian untuk memimpin kementrian-kementrian dan lembaga tinggi lainnya, lalu saya ingin mendengar dari anda semua, bagaimana kalian menterjemahkan janji saya kepada rakyat, menjadi program nyata di lembaga yang saudara pimpin?”
Coba saudara Menteri Sekretaris Negara, saya ingin dengar terlebih dahulu dari sudat pandang kesekerariatan.
Lalau Mensekneg, menyampaikan uraiannya sebagai berikut :

Bapak Presiden yang saya muliakan, selamat pagi dan terima kasih atas kesempatan pertama ini. Saya ingin to the point saja, pertama, ketika kita mulai bekerja, tahun 2010 yang lalu. Kita tidak bisa menjabarkan kontrak social Bapak dengan rakyat, karena perundang-undangannya tidak sinergi dengan system politik kita.
Maksud sauadara bagaimana?

Pada bulan Agustus tahun 2009, Bapak Presiden SBY 1 menyampaikan pidato didepan sidang paripurna DPR RI, Pengantar RAPBN tahun 2010. Padahal President SBY 1, selesai melaksanakan tugas akhirnya pada October tahun 2009. Begitu ditegaskan dalam UUD 1945, bahwa jabatan President adalah 5 tahun. Jadi sesungguhnya tidak ada kaitannya antara yang disampaikan oleh Presiden SBY 1, dengan pemerintahan yang Bapak Pimpin sekarang. Jadi Kabinet yang Bapak Pimpin itu, baru menyusun program kerjanya berdasarkan kontrak social Bapak, sesunggunya mulai tahun 2011 ini.

Selanjutnya Bapak Presiden Sementara yang mulia, satu hal lagi yang agak aneh dalam perundang-undangan kita, yaitu soal bagaimana menyusun RAPBN tersebut. Ini tidak seiring dan sejalan dengan system politik presidential. Dalam UU no 25/2004 tentang “system Perencanaan Pembangunan Nasional”, intinya buttom up planning itu, sehingga melibatkan semua stake holders. Hal ini bertabrakan dengan hakekat system pemilihan langsung ( {Presidential). Sesungguhnya rakyat telah mempercayakan sepenuhnya secara mutlak kepada Bapak melalui kedaualatannya dengan memberikan suara penuh pada Pikpres yang lalu.

Saudara Mensekneg, cukup sekian dahulu, saya jandi pusing nech. Para Menteri, baik sidang saya skor dulu, terima kasih atas perhatiannya. Ntar saya kembalikan lagi kepada Bapak SBY 2.
Wasalam.

Advertisements

Kontemplasi-Ku


Waktu Aku Bermain-Main

Masih terbayang urutanya
Main ini, main itu
Berlari kesana kemari
Teriak teriak kegirangan
Main Gundu
Ujan ujanan

Walau itu terjadi setengah abad yang lalu
Tetapi lengket dalam ingatanku
Isyarat sang waktu berlari bak roket melesat
Tak terasa terbalut cinta dunia
Tak mungkin kembali lagi
Aku berjalan walau merayap detik per detik

Kini setiap detak detik terdengar
Suara itu mengusik pikiranku
Walau Tidak takut menjumpai-Mu
Tetapi aku takut sampai
Aku tak mau bertemu dengan hari itu
Hari ketika aku ditangisi dan ditinggalkan sendiri
Membusuk

Brawijaya 21/12/11

Oh My Gods

by Ali Syarief

I can not write down “Gods”, otherwise will againts the belief of most of the people in this
world. Currently I read the news in Malaysia that there were some Churches were burned down by Islamic or fundamentalist group because they (Christian) called “Allah” to their God, I said; “ Oh my God”, what ‘s wrong? God, a holly name of the supreme creator, is well known by every civilization but the names of vary depending on the place and feeling of the local people.

My Friend Imam Subagio, who is a Javanese, called Him Gusti Allah. While Ayu Sukmadewi, She is Balinese and She is Hindu, called Him “ Sangyang Widiwase or Dewata”, while Alexander Soares who is Timorese called Maromak. Anyway a Sundanese like myself called “Gusti anu murbeng Alam”. Moses, Isa and Muhammad, who are well known called Prophets, introduced in their holly books such as Torah, Injil (the Bibble) and Qur”an for the same God as Elloi, Elloh or Allah.

Aramaic, the Semitic language, old language of the middle east, is used to describe a variety of languages spread over a vast area, today from Egypt to Iraq, and Turkey in the north. The Aramaic language was spoken as a means of communication for official business, diplomacy and as divine language by Assirians, Babylonians, Persians, Chaldeans, Jews and Syrians, and by all people in the middle east in ancient times.

Arabic, a Semitic language, and Hebrew, also a semitic language, are closed to Aramaic. Those three closely related expressed the subconsious feeling of the need a supreme power in ythe same way. Jews said “Elloi” or “Elloh”, that’s some time later changed to become “Ellohim” or “Yahwe” to as name of God. The Arab used “Allah” as the holy name of God. which was written down in the Qur’an. So the three peoples with similar languages expressed the same for the name of God. (Quoted from Sulityo Pujo- The Jakarta Post,1/25/2010).

How do we call to people who destroy Churches, Mosques or Synagogues or maybe other holy places as believer? The true believers should respect to other holly places as Muhammad even offer his mosques to Jewish People on their Journey to perform their prayers. Shalahudin Al Ayyubi ordered his followers to respect Churches and let them free because they were People of the Book (Ahli Kitab).

By the way, sometimes I contemplate that I have to change my thought on God as it lies in my mind as mostly people aslo think as they are now exist. Look at my friend who shared with me “that the existence of God because of us, without us there will be no God”, RR

MEMAKNAI NEGARA BESAR & BANGSA BESAR

Negara Besar.
Seringkali kita mendengar dari para petinggi kita berteriak dengan gagahnya; : Indonesia adalah Negara besar”. Wilayahnya seluas benua Amerika. Bagaimana mereka memaknainya? Tetapi semua managemen disentralisir di yang namanya “Pusat” atau Jakarta. Contoh sederhana, cetak kertas suara saja harus di cetak Jakarta, kemudian didistribusikan ke daerah-daerah yang luasnya segede Amerika itu. Anggaran Pembangunan menggelembung ke atas, di Pusat, padahal pelaksananaan pembangunan riel itu ada di daerah-daerah. Idea-idea seringkali datangnya dari Pusat, padahal orang-orang yang cerdas dengan idea-idea brilliant sesungguhnya banyak di daerah-daerah yang tak pernah muncul. Akhirnya Jakarta maju sendiri. Padahal tanngung Jawa pemerintahan Pusat itu, adalah urusan-urusan Politik Luar Negeri, Pertahanan Keamanan dan Agama.

Kalau anda bertanya, Psatnya Amerika itu dimana sih? Anda tidak akan pernah menemukan jawabanya, karena Washington adalah hanya sekedar wilayah Dstrik saja atau kalau di kita tak ubahnya wilayah Kecamaan. Pusat-pusat itu tersebar di Negara-negara bagian. Di Australia, Pusat pemerintahan ada di Canberra. Kota yang sangat sepi, hampir-hampir sangat membosankan, karena penduduknya hanya 250 ribu orang saja. Kebanyakan di huni oleh pegawai-pegawai pemerintahan. Pusat-puat kegiatannya terfokus di Sydney atau Melbourne.

Bangsa Besar.
Saya hampir tidak pernah faham apa makna Indonesia adalah bangsa yang besar!, yang sering kali juga di sampaikan secara emosioanal digelorakan oleh pimpinan-pimpinan kita, baik pimpinan pemerintahan maupun politkus. Padahal kita tahu di Luar negeri itu Indonesia hanya popular Bangsa yang Paling Korup di Dunia. Semakin terkenal Indonesia di Luar Negeri ketika Amrozi Cs meledekan Bali, terkenalah dengan Bangsa Terorist. Hampir pasti orang Amerika banyak yang tidak mengenal Indonesia. Kalau kita ingin introducing Indonesia, harus kita mulai dengan “ Bali “ dahulu. Di Singapore sejak kita turun dari pesawat, sopir taxi, restoran, ditoko toko electronic, mall mall, kita menjadi bahan perhatian orang Singapore, karena orang Indonesia dikenal sebagai bangsa yang suka memborong apa saja secara emosional. Takashimaya adalah mall yang termewah di Singapore dan pengunjungnya kebanyakan orang Indonesia. Tetapi jangan salah ketika orang singapore menegur, “ my maid is also Indonesian from Jawa”.

Konon kabarnya di Eropa kalau mengungkapkan karakteristik yang jelek dan tidak berakhlaq dengan ungkapan kata “Indonesien”. Tapi belagunya, Indonesia itu lebih banya musuhnya ketimbang karibnya!.

Merajut Keutuhan Budaya

Tidak dapat kita pungkiri bahwa semua permasalahan bangsa saat ini, pada akhirnya tertumpu kepada / disebabkan oleh lemahnya nilai-nilai kekokohan budaya bangsa kita sendiri. Padahal identitas suatu bangsa, kebesaran suatu bangsa dan bahkan keutuhan suatu bangsa, akan sangat ditentukan oleh keajegan budaya bangsanya itu sendiri.

Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai kesatuan etnisitas, suku, ras, agama dan budaya local (endogenous) adalah merupakan keunikan tersendiri, yang justru sekaligus bukan saja seharusnya menjadi kekuatan (strength), akan tetapi dapat menjadi suatu keunggulan (advantage) dalam berbagai hal.

Faktor Geografis, Demografis dan keragaman budaya local adalah potensi bangsa ini, baik dalam pengembangan ekonomi dalam rangka mensejahteraan bangsa, landasan politik sebagai pengembangan demokrasi dalam rangka membentuk pemerintahan yang kuat, maupun keutuhan wilayah nuasantara itu sendiri. (Ingat; IPOLEKSOSBUD MIL&HANKAM)

Namun demikian, akhir-akhir ini ada fenomena, bahwa kita semakin merasakan kehawatiran yang sangat mendalam, bahwa pengikisan nilai-nilai cultural kita, telah menjadi semakin besar, sehingga bukan saja telah mengancam nilai-nilai kebangsaan kita, akan tetapi keutuhan suatu bangsa akibat nilai moralitas bangsa yang semakin rendah, yang pada gilirannya akan mengancam terhadap keutuhan wilayah nusantara. (Perhatikan peristiwa seperti tawuran, dekadensi moral remaja, kriminilitas dan sadisme,dll)

Oleh karena itu, adalah menjadi kewajiban semua pihak, untuk kembali merajut tatanan budaya bangsa ini, sehingga kembali pada relnya, agar dapat memicu kekuatan bangsa, baik dalam kehidupan politik, ekonomi maupun dalam berbudaya itu sendiri.