Ketika Islam Universal Menjadi Spesifik

Supaya tidak bertele tele memahami judul tulisan ini, saya ingin jelaskan di awal tulisan ini. Maksudnya agar tidak menyita waktu anda. Jadi begini, kan Islam itu difahami sebagai ajaran damai (rahmata lil alamin), cita kasih (arrahamanirrohiem), bersih Annadhopatu minal iman), akhlaqul karimah, dst, tetapi kemudian ketika nilai-nilai tersebut di lembagakan menjadi sebua Ad Dien (katakanlah agama), maka jadilah berfirqah-firqah (banyak faham). Ada Islam Sunni dan syi’ah. Lebih menukik lagi jadilah Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam, Ahmadiyah, hingga jadilah semodel Front Pembela Islam.

Ini menjadi hukum keilmuan, bahwa ketika nilai nilai yang universal itu di wujudkan kedalam bentuk kelembagaan sosial, seperti institusi agama, maka jadilah hal tersebut yang spesifik. Kebenarannya menjadi tidak universal lagi. Khas. Nah mulai dari sinilah awal terjadinya koflik terjadi. Claim kebenaran itu ada pada interpretasinya masing-masing. Padahal tafsir itu lahir oleh frame of references dan field of experiences. Jadi tiap orang maupun tiap kelompok pasti berbeda beda.

Persoalanya kemudian adalah, apa yg perlu kita lakukan untuk menghindari konflik permanen ini? Apakah yang harus di bubarkan itu adalah Front Pembela Islam, NU, Muhammadiyah, Akhmadiyah, atau lembaga agamanya? Supaya kemudian kita kembali kepada Islam yang rahmatan lil alamin.