Pelarangan Lady Gaga Karena Kedangkalan Pemahaman Budaya

Ketika Jepang dilanda krisis Ekonomi, kemudian Kaisar bertanya “ada apa yang salah dengan budaya kita”. Itulah sikap arief dari seorang kaisar yang sangat memahami secara benar akan arti dan pentingnya eksistesi Budaya dari suatu bangsa. Apakah kemudian kita membenarkan dan merestui tidak diberi ijinnya Lady Gaga melakukan konser di Indonesia, atas alasan menghindari kehawatiran berbenturan antara kedua peradaban dan karena budaya yang berbeda!?.

Sikap Habib Rizieq, Pimpinan FPI, yang merasa kebakaran jenggot atas rencana kehadiran Lady Gaga ke Indonesia dan dituding sebagai penyebabnya serta desisi Polisi melarang digelarnya konser disebut adalah karena pemahaman Budaya yang lemah dan tidak berdasar. Pemahaman Budaya yang sempit dan tidak ajeg inilah yang justru mengkerdilan bangsa Indonesia dimata masyarakat dunia. Sekali lagi kelompok Islam di Indonesia telah ditunding sebagai sesuatu yang rigid dan pemeritah yang tidak punya visi kebudayaan nasional. Karya Seni yang tinggi tidak bisa dinikmati oleh masyarakat awam.

Lady Gaga, penganut agama Karbala-agama pada umumnya artist Hollywood, dia tidak peduli kepada honor yang ia akan terima, yang ia fikirkan adalah expressi karya seninya yang indah. Dan pengakuannya, satu satuya show yang paling sukses adalah di Jepang, karena masyarakat Jepang adalah pengagum karya seni yang tinggi.

Coba kita pelajari, apa yang terjadi di Bali saat sekarang. Bali telah menjadi tujuan wisata dunia. Semua warga dunia bercita-cita ingin berkunjung ke Bali. Jadilah saat ini berbagai bangsa ada di Bali. Tentu bukan saja mereka bukan hanya sekedar berlibur, berjemur diri di pantai, nginep, makan dan minum tetapi juga membawa budaya mereka di Bali. Turis turis yang nudis di pantai pantai-panati publik hilir mudik kesana kemari, mabuk-mabukan, narkoba bahkan dan yang berperilaku tata busana yang tidak santun, yang di negara justru tidak dilakukan, menjadi pemandangan dan ciri turis di Bali yang biasa terlihat sehari hari. Kejadian situasi ini di mulai sejak tahu 1975.

Apa yag terjadi dengan masyarakat Bali dengan berbenturan lama anatara nilai-nilai budaya asing dengan budaya setempat tersebut? Rusakah struktur budaya dan sistim nilai orang Bali?

Sejak turis datang di Bali, masyarakat Bali menikmatinya. Peluang berbagai usaha terbuka luas dan ekonomi tumbuh. Oleh karena itu berbagai upacara agama yang udah membudaya yang sarat dengan pengeluaran uag yang tidak sedikit, bisa di gelar di seuruh Bali. Pura-Pura bukan saja yang ada di banjar-banjar, bahkan hingga ke Pura Pura pribadi pun di bangun hampir setiap rumah. Sesajen sejaten semarak dimana-mana. Dan tentu saja, berbagai kesenian Bali, dari mulai tari menari, gamelan, ogoh-ogoh, kecak dan legong terus semarak, hampir bagai festival harian ada sepajang tahun. Budaya Bali makin menkristal, turis turis malah berpakaian Bali, Belajar life style ala Balian, dan seterusnya.

Last but least, para pelacur yang datang ke Bali pada umumnya justru dari Pulau-Pulau terdekat seperti dari Pulau Jawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s