Look like who?

20121021-112918.jpg

Advertisements

Making A Live

I think about you a lot, to be honest. If you ask me, I wouldn’t deny it. You always seem to sneak into my head. I like talking to you because you make me smile, all the time! You’re the only one who can make me smile, by the mention of your name. And I’m really happy with it. I can’t really explain anything else, because you’re special to me and something different. It’s a good thing though, I like it. It makes you interesting. You aren’t like the others. You have an amazing personality, and it would be a loss if you changed it.

 

 

 

The State of Living Dangerous

Indeed, Indonesia’s Economic Growth remains excellent, above average 6%. And it was claimed by Susilo Bambang Yudhoyono as his achievements in the economy program development.  Butwe note that since Bung Karno, the fisrt President of Indonesia as well as Soeharto era, Abdurahman Wahid  to Megawati, our economy grew more than 6% constantly per anum. So then we should question, justify that growth is the product of government policy? Our economist Faisal Basri, once said that our growth, without any government intervention at all. He said the Indonesia economy miracle. But I think this is as “natural growth”.

Then the question relating to the title of this topic is as follows:

1. Do you believe the President’s body?

2. Do you believe the political institutions?

3. Do you believe the bureaucrats?

4. Do you believe the law enforcement Bodies ?

When it’s all said “no”, then this country  remain  in dangerous and chaos.

So, who should make corrections to all this? Are those who have no interest with the powers, which have the conscience to Indonesia future more advanced, which have a  vision of the nation’s future.

Our Forum Bandung, Bandung is a group of scholars, is starting a moral movement and pressure on the related parties involved, for the better of the nation and the state.

 http://fbandung.wordpress.com

Negara Dalam Keadaan Gawat!

Memang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tetap bagus, diatas rata-rata 6%. Dan itulah yang di claimed oleh Pemerintah SBY, sebagai prestasinya di bidang perekonomian. Padahal kita mencatat, sejak jaman Bung Karno, begitu juga jaman Pak Harto, Gudsur hingga Megawati, ekonomi kita tumbuh konstan di atas 6% peranum.  Jadi kita patut mempertanyakan, benarkan pertumbuhan itu adalah produk dari kebijakan pemerintah? Ekonom kita Faisal Basri, pernah mengatakan bahwa pertumbuhan kita, tanpa sedikitpun adanya campur tangan pemerintah. Maka dari itu  boleh kita sebut sebagai “natural growth”.

Kemudian pertanyaan yang berkaitan dengan judul tulisan ini adalah sbb :

1. Percayakah anda kepada lembaga Kepresidenan?

2. Percayakah anda kepada lembaga Politik?

3. Percayakah anda kepada birokrat?

4. Percayakah anda kepada lembaga penagak Hukum?

Bila jawab itu semua “tidak”, maka nagara dalam kedaan gawat.

Lantas, siapa yang harus melakukan koreksi terhadap semua ini?  Adalah mereka yang tidak memiliki kepentingan dengan kekuasaan, yang memilki nurani untuk Indonesia kedepana lebih maju, yang memiliki visi bangsa kedepan yang benar. Kami Forum Bandung, yaitu sekelompok cendekiawan Bandung, sedang memulai gerakan moral dan tekanan kepada pihak yang terkait, untuk kemajuan bangsa dan negara yang lebih baik; http://fbandung.wordpress.com

Cara Smart Menipu Orang Awak

Pesawat dari Padang —► Jakarta bersiap take-off,  tapi tertunda gara-gara buyuang (urang padang yg baru pertama naik pesawat)dengan tiket ekonomi tapi ngotot pgn duduk di kelas bisnis.

Alex (pemilik kursi bisnis) : ”Maaf pak… Ini kursi saya”

Buyuang :”Ang siapo..?”

Alex :”Saya penumpang yang duduk disini pak..!”

Buyuang :”Penumpang..?
Aden jugo, samo2 bayar..!
samo2 numpang, manga ang  ngatur2 den?”

Alex lalu lapor ke pramugari.

Pramugari : “Maaf pak Buyuang.
dari tiket bapak mestinya duduk di belakang”

Buyuang: “Kau siapo ..?”

Pramugari :”Saya pramugari”

Buyuang: “Pramugari itu tu apo ?

Pramugari : “Pramugari itu yang melayani penumpang”

Buyuang: “Oh, babu? Den kiro siapo, sudahlah kau indak usah ngurus masalah urang, cuci se piring di belakang. Dak usah ngatur2 den. Pokoknyo aden nak duduak di siko. Kau nak manga??!!”

Pramugari habis akal, dia memanggil pilot.

Pilot : “Maaf pak,
mestinya bapak duduk di belakang..!! “

Buyuang: “Kau siapo?”

Pilot : “Saya pilot pak”

Buyuang :”Pilot itu apo?

Pilot :”Pilot itu yang mengemudikan pesawat ini”

Buyuang : “Oh sopir..?
Den kiro siapo, baju nyo bantuakpegawai LLAJ, pake topi, dak taunyo sopir. Pokoknyo aden indak namuah pindah.?  Buek berang den se ang ma….”.

Komar, orang Padang  yang baru masuk pesawat mendengar ribut² bertanya pada pilot, kemudian dia manggut² dan mendekati Buyuang sambil membisikkan sesuatu di telinganya, Buyuang tiba2 bangkit  sambil ngomél :

“Dasar sopir gilo, babu mati karancak an, untuang ado bpk komar yang sakampuang jo den,  yg ngasih tau den. Klo indak, aden indak ka  nyampe di jakarta.

Buyuang pun pindah ke belakang, Pilot merasa takjub, dia bertanya pada komar :
“Apa sih yang bapak bisikkan, koq tiba² dia sukaréla pindah kursi ?”

Komar : “Saya tanya, bapak mau kemana?
Dia jawab mau ke Jakarta, Saya bilang anda salah duduk, kalau mau ke Jakarta duduknya di belakang, yang didepan ini tujuannya Hongkong… !!!​

Hati-Hati dg Imanmu

Walau tersurat didalam kitab suci sekalipun, bila anda tidak mengerti, apalagi faham, tidak harus mengimaninya. Bila perilakunya seperti itu, al-qur’an yang tadinya sebagai petunjuk (hudan), akan berubah menjadi sebuah “ajimat”. Bahkan lebih dari itu, ayat al-qur-an yang di imani, tetapi tidak di fahami kedalaman artinya, bisa saja menjadi menyesatkan anda. Contoh Amrozie Cs. Perintah Al-qur’an supaya “asshidau alalkufar”, tegas kpd orang yang kafir, jadilah di artikan membunuh siapa saja yang dianggap kafir menurut penilaian dirinya, dan mengatas namakan “jihad fiesabilillah”, membunuh. 

Para zumhur ulama merumuskan makna Iman itu seperti ini; “Mengakui dalam hati, aqdun bilqolbi, terucap dalam lisan, iqraru bilisani, dan af’alu bilarkani atau melakukan dalam perbuatan”. Jadi bukan hanya diartian sebagai “percaya” atau believe. Karena Iman itu pemahamannya seperti itu, maka tentu kita harus berhati-hati bagaimana kita berperilaku menjadi seorang yang beriman. Bila gegabah, jadilah si iman yang membabi buta. Salah kaprah dan malah menjadi ingkar dari substansinya.

Jadi iman itu mulai dengan memroses sesuatu yang dapat kita telaah, dengan pertama “mengerti” dahulu baru kemudian “memahaminya” dan setelah itu barulah dapat menentukan sikap keimanannya. Sikap keimanan seperti inilah yang kemudian akan menjadi perilaku yang mencerminkan seseorang sebagai orang yang penuh dengan kearifan, tidak menjadi amarah dan bahkan tidak akan mengkerdilkan nalar kita.