Ibu Suhaebah Guruku

guruSaking banyaknya guru yang telah mengajariku, tetapi yang teringat hanya Ibu Suhaebah, yang pertama kali mengajari aku bisa membaca dan berhitung. Masih terbayang raut mukanya bahkan senyum keihlasannya saat mengeja huruf demi huruf membimbimbingku dulu. Mengajari menulis pada subak. Ia masih berkebaya, bila mengajar dan berjalan kaki dari rumah ke tempat dimana ia mengajar. Keberhasilannya mengajariku, telah membawaku, membuka jendela dunia. Bisa singgah di seluruh permukaan bumi ini.

Kalaulah masih hidup, saya ingin bertemu dengan Ibu Suhaebah, dan ingin bersujud kepadanya, sebagai ungkapakan rasa terima kasih ku.

Sementara ada guru lain, yg mengarjarkan berbeda dengan Ibu Suhaebah. Ia pakaiannya, kadang-kadang berjas dasi, seperti orang Amerika. Kata-katanya memukau-ku. Ketika ditanya, siapakah yang menciptakan bumi ini? Jawabnya, yang di atas. Siapakah yang menciptakan diriku? Jawabnya, Yang Maha pencipta. Siapakah yang menciptakan semua ini? Masih jawabnya Dia yang maha segalanya.

Kalaulah saya ketemu dengan sang guru ini, saya ingin meludahi mukanya. Memberi jawaban seperti itu, hanya membunuh anugrah akal. Jauhi dia.

Ramadan 15,1435

Ramadan & Refleksi Diri

SAMSUNG CSCKembali lagi memasuki bulan ramadhan. Ayat perintahnya masih yang itu – itu juga. Hafal sekali aku. Membosankan. Potretnya pun masih tetap yang lama. Sama saja, yang itu. Puasa di siang hari, makan dua kali lebih banyak di malam hari. Ada es cendolnya segala

Bulan Istimewa, makan yang banyak dan beli baju baru. Aku juga puasa. Tetapi telah ku geser naweatunya, dari senandung ilusi kepada yang nyata. Kesehatan!!!. Puasa dengan cara saya. Karena aku bukan onta. Menjaga spy tdk dehidrasi. Katanya itu tdk sesuai dengan tuntunan!. Biar saja, bukankah yg berpuasa itu juga banyak yg tidak menerima pahala kecuali lapar dan dahaga? Tuh, kan tetap hawa nafsunya di akumulasikan ke malam hari. Nanti pulang kampung juga sambil riya. Nggak perlu mikirin macet segala, karena aku mudik dengan motor baru.

Sekarang aku bahagia. Kata istriku, aku masih muslim. Kata orang nashora, kamu bukan musuhku. Kata orang-orang kafir, ali-san irrashaimase. Kata orang sekuler, anda humanis dan kata orang atheist, we are a “life is force”.

Waltakum minkum ummatun yad’una illah khairi,

Salam
Ramadan ke 3, 1435 H – Dari Kamarku