Hoax and Not Hoax

As a group owner with more than 29 thousand members, and also became member of other groups in Face Book, every time I read to many comments of friends who support to one of the Indonesia Presidential candidates. Two of these support groups, seem that their behaviors and characters are like religious cults. There is never any justification coming from the opposite candidate supporters. Its too fanatics.

Any information that was not meet to their hopes, then he will say that is a hoax, even if it’s true. Vice versa, even though it was a hoax, but not bad at heart, then he will say Yes. No more searching for the right information.

I tried then to find out what is going on with my nation, for this situation, because as part of the nation, it seems that my nation is already at a very high level of weirdness. These events would influence whether situational or indeed a strange disease that has not been recovered since the proclamation?

Luckily my friend sent me a book who is a Professor of Communication at Mac quarries University in Australia, wrote on Perception page, as:

“If we have learned to dislike someone we will have built up a number of expectations about how we will relate to and communicate with that person, and we might well be inclined to discount or ignore what they say”, Richard Ellis / Ann McClintock – if You Take My MEANING, p 5.

Identify Hoax News

Sebagai seorang yang menekuni ilmu komunikasi dan punya group dengan member 29 ribuan, kemudian menjadi anggota group-group lain juga di Face Book, tiap saat saya memperhatikan komentar teman-teman yang terafiliasi dukung mendukung kepada salah satu Calon Presiden. Dua kelompok pendukung ini, karakternya seperti perilaku sekte keagamaan. Tak pernah ada pembenaran apapun yang datang dari pihak kubu lawan. Fanatik.

Informasi apa saja, yang kurang mengenakan hatinya, maka dia akan bilang Hoax, sekalipun itu benar. Begitu juga sebaliknya, walau itu Hoax, tapi enak di hati, maka ia katakana mantafff. Tidak perlu lagi mencari informasi yang benar.

Saya kemudian mencari jawab, atas situasi seperti ini, karena sebagai bagian dari warga bangsa, rasanya bangsa saya ini sudah pada level yang sangat tinggi keanehannya. Apakah ini perisitiwa pengaruh situasional atau memang penyakit aneh yang belum juga sembuh sejak proklamasi?

Untung saya dikirim Buku dari teman saya seorang Professor Komunikasi di Mac Querie University di Australia, di tulis pada sub judul Perception, seperti ini :

“If we have learned to dislike someone we will have built up a number of expectations about how we will relate to and communicate with that person, and we might well be inclined to discount or ignore what they say”, Richard Ellis/Ann McClintock – If You Take My MEANING, p 5.

Al-qur’an itu Buku

Al-quran itu Buku

Dalam surat al-baqarah ayat ke dua tertulis seperti ini “ dzalikal kitabu la raiba fihi hudzalilmuttaqien”, dan seterusnya. Setelah saya merenung, lalu saya berpendapat seperti ini, kata “kitabu”, itu asal kata dari “kataba”, yang artinya menulis. Jadi kitabun maful (Noun) dari kata Kataba, artinya kitab atau buku.

ذَلِكَ الْكِتَابُ
Isim Isyarat dzaalika adalah Mubtada’, dan kata al-kitaabu menjadi khobarnya dzaalika, dan Isim Isyarat dzaalika itu untuk menunjuk kepada kata benda yang mudzakar/laki-laki, dan setiap Isim Isyarat pasti kata benda, dan setiap kata yang bisa dimasuki oleh huruf tambahan alif dan laam seperti kata al-kitaabu juga pasti kata benda/isim.

Kemudian keraguan saya akan cara saya meng i’rab, saya konfirmasi kepada ustadz, dan ia mengatakan memang begitu adanya.

Dari situ, kemudian aku menerawang ke abad dimana al-quran diturunkan, yaitu pada 600 masehi. Dari tarich yang saya baca, bahwa ayat-ayat yang di bukukan dalam kitab yg kemudian di sebut al-quran itu, adalah diturunkan dalam berbagai cara, seperti dalam bentuk suara dan atau mimpi Nabi Muhammad saw.

Nah, pertanyaan saya, apa arti kata Kitabu tersebut? Sebab al-quran baru ada dalam bantuk kitab itu pada abad ke 14 M, setelah Johanus Gutenberg menemukan mesin cetak. Pada saat al-baqarah ayat ke-2 itu di firmankan, sepengetahuan saya, al-quran tentu saja belum dalam bentuk Kitab. Masih dalam bentuk ayat yang ada dalam benak penghafalnya.

Saya kemudian bertanya juga kepada teman-teman saya, konon alquran yang pertama kali di cetak itu, atas perintah salah seorang raja Turki kepada seorang German. Tetapi ia tidak memberikan, istilahnya, manuscript nya, tetapi dengan memimnta si-German menghafalnya, lalu ia mencetaknya, sebanyak 100 copies. Tetapi al-quran itu pun tdk boleh di edarkan, oleh si raja itu katanya.

Ada yang bisa memberikan pencerahannya, kenapa menggukanan kata Kitabu itu?

Ibu Suhaebah Guruku

guruSaking banyaknya guru yang telah mengajariku, tetapi yang teringat hanya Ibu Suhaebah, yang pertama kali mengajari aku bisa membaca dan berhitung. Masih terbayang raut mukanya bahkan senyum keihlasannya saat mengeja huruf demi huruf membimbimbingku dulu. Mengajari menulis pada subak. Ia masih berkebaya, bila mengajar dan berjalan kaki dari rumah ke tempat dimana ia mengajar. Keberhasilannya mengajariku, telah membawaku, membuka jendela dunia. Bisa singgah di seluruh permukaan bumi ini.

Kalaulah masih hidup, saya ingin bertemu dengan Ibu Suhaebah, dan ingin bersujud kepadanya, sebagai ungkapakan rasa terima kasih ku.

Sementara ada guru lain, yg mengarjarkan berbeda dengan Ibu Suhaebah. Ia pakaiannya, kadang-kadang berjas dasi, seperti orang Amerika. Kata-katanya memukau-ku. Ketika ditanya, siapakah yang menciptakan bumi ini? Jawabnya, yang di atas. Siapakah yang menciptakan diriku? Jawabnya, Yang Maha pencipta. Siapakah yang menciptakan semua ini? Masih jawabnya Dia yang maha segalanya.

Kalaulah saya ketemu dengan sang guru ini, saya ingin meludahi mukanya. Memberi jawaban seperti itu, hanya membunuh anugrah akal. Jauhi dia.

Ramadan 15,1435

Ramadan & Refleksi Diri

SAMSUNG CSCKembali lagi memasuki bulan ramadhan. Ayat perintahnya masih yang itu – itu juga. Hafal sekali aku. Membosankan. Potretnya pun masih tetap yang lama. Sama saja, yang itu. Puasa di siang hari, makan dua kali lebih banyak di malam hari. Ada es cendolnya segala

Bulan Istimewa, makan yang banyak dan beli baju baru. Aku juga puasa. Tetapi telah ku geser naweatunya, dari senandung ilusi kepada yang nyata. Kesehatan!!!. Puasa dengan cara saya. Karena aku bukan onta. Menjaga spy tdk dehidrasi. Katanya itu tdk sesuai dengan tuntunan!. Biar saja, bukankah yg berpuasa itu juga banyak yg tidak menerima pahala kecuali lapar dan dahaga? Tuh, kan tetap hawa nafsunya di akumulasikan ke malam hari. Nanti pulang kampung juga sambil riya. Nggak perlu mikirin macet segala, karena aku mudik dengan motor baru.

Sekarang aku bahagia. Kata istriku, aku masih muslim. Kata orang nashora, kamu bukan musuhku. Kata orang-orang kafir, ali-san irrashaimase. Kata orang sekuler, anda humanis dan kata orang atheist, we are a “life is force”.

Waltakum minkum ummatun yad’una illah khairi,

Salam
Ramadan ke 3, 1435 H – Dari Kamarku