Haq Hidup Atheist di Negara Pancasila

Pertama, saya jelaskan dahulu, apa itu Athesit yang saya maksud. Ia adalah seseorang yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Boleh jadi karena ketidak tahuannya, mungkin tak ada tuntunan atau hidayah kepadanya!?. Boleh juga karena ignorant, tak peduli ada atau tidak ada Tuhan. Cuek dan enjoy life apa adanya saja. Atau alasan lainnya, yang lebih privat.

Lalu, saya jelaskan apa itu Pancasila dalam konteks berbangsa dan bernegara. The founding fathers sudah sepakat dan menetapkan, Pancasila adalah way of life dan falasafah hidup bangsa Indonesia. Artinya apa? Pancasila adalah cite-cite ideal, bagaimana wujud dan bentuk bangsa kedepan adalah di warnai oleh nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila tersebut.

Sekarang kita ukur, telah Pancasilaiskah kita!? Umpamanya dengan sila keTuhanan yang Maha Esa. Cita-cite idealnya, semua pribadi-pribdi berKetuhanan kepada Tuhan yang mama Esa. Jelasnya, percaya (dalam bahasa yang umum beriman itu) adanya dan eksistensi Tuhan yang Tunggal itu. Kalau kadar keimanan seseorang kepada Tuhan Yang Maha Esa itu, umpamnya baru 0.5%, atau sudah sampai 10%, bahkan ada yang telah 50%, atau bahkan di bawah o%, apakah melanggar Pancasila, sehingga harus diusir dari tanah air Pancasila ini?. Dan sebagai catatan, tidak akan ada yang pernah hingga mencapai keimanan seseorang kepada Tuhan yang Maha Esa, sampai 100% (Pancasilais sejati), karena social valuenya berkembang dan dinamis.

Lalu, bagaimana dengan haq hidup yang Atheist di negara yang berdasarkan Pancasila? Jawab sendiri ah…..

di tulis tgl 14 September 2011 di Prague – Czech Republic (last day here)

Indonesia Negara Sekulair atau Negara Berdasarkan Agama?

Dari sejak awal berdirinya negara Republik Indonesia, pergulatan untuk memperebutkan kekuasaan negara, hingga saat ini, tak pernah berhenti. Terutama pergulatan ingi mendirikan negara berdasarka agama dan sekulerisme. Rupanya tidak cukup jelas dan tidak dapat di fahami, kalau UUD 1945 itu tidak tegas  dalam menggariskan garis ideologi negaranya.

Jaman Orde Lama, kehidupan perpolitikan begitu bebasnya, sehingga ideologi apa saja bisa diperjuangkan melalui ranah politik supaya dapat berkuasa. Peserta pemilu bukan saja dari partai2 politik dari berbagai latar belakang ideologi, tetapi perwakilan perorangan pun,dengan ideologinya sendiri, bisa ikut pemilu 1955. Produknya melahirkan kabinetT 100 menteri sebagai representasi dari berbagai kekuatan politik waktu itu.

Tetapi akhirya pemerintahan Bung Karno harus kandas pada tahun 1965.

Regim berganti kepada Pemerintahan Suharto, melalui dasar Surat Perintah 11 Maret itu. Peserta Pemilu mulai di batasi, yaitu kelomok2 partai agama dan kelompok partai nasionalis, jumlah peserta pemilu ke dua adalah 9 parpol dan Golkar. 10 kontestan. Tetapi  kemudian regime Suharto berhasil mem-fusi-kan partai tersebut menjadi tiga kelompok; Yaitu partai yg berideologi Islam yg tergabung dalam PPP (yaitu terdiri dari MI, SI, Perti dan NU), Partai Yg berideologi Nasioalis ala PDI-P (PNI dan Partai2 Kristen/Katolik serta Murba- yg berbau komunisme) dan Golongan Karya (yg tidak jelas arah idiologinya).

Setelah berhasil Suharto menyederhanakan Partai yg banyak menjadi 3 partai tersebut, kemudian manuver lainnya, Suharto, menetapkan azas semua partai dan Golkar dengan satu-satunya azas yaitu Pancasila, walau bisa diterima, tetapi melalui pertentangan yang sangat sangit.

Disaat itulah Pemerintahan Suharto di tuding oleh kelompok beragama,sebagai pemerintahan sekulair, sehingga telah memicu berbagai perdebatan dan protes, tetapi Pak Harto  tetap pada pendiriannya. Sejarah tidak mulus rupanya, Suharto dituntut mundur oleh berbagai aksi protes Mahasiswa.

Sekarang rezim sudah berganti, iklim politik sudah berubah, tetapi perjuagan mendirikan negara berdasarkan agama itu tetap ada dan bisa di cium, yaitu dengan hadirnya parpol2 Islam seperti PKS, PKB, PAN, dan PPP. Memang  partai-partai tersebut tidak akan secara frontal menolak bedirinya negara yang berdasarkan agama, tetapi kalau terjadi berdiri negara berdasarkan agama karena keberhasilan salah satu partai itu tadi,  tentu partai yang lain ibarat ikan di lempar ke sungai, ia akan berenang kesana kemari dan menari menari juga di habitatnya.

Sebagai catatan bahwa raihan suara kumulatif dari partai2 islam mulai sejak Pemilu 1955 hingga Pemilu 2014, tdk pernah lebih dari 33%, begitu juga Partai Yg nasionalis a’la PDI-P, raihan suaranya sekitar 20%.Selebihnya swing voters.

Pertanyaan nya apakah mau negara berdasarkan agama atau sekulair? Nah, sekarang iklim berpolitik sudah ditetapkan “berdemokrasi” dan sangat liberal sekali,  jadi silahkan saling berjuang and try to win people hearts, sebagai pemegang kedaulatan.