Radikalisme Dalam Islam dan Demokrasi

Penganut Demokrasi mindsetnya adalah bebas se bebasnya boleh melakukan apa saja yang mereka inginkan dengan menganut kepada dalil “freedom of expression”. Ia boleh melakukan berbagai macam kritik, bahkan menghina dina kannya, atau keberpihakan kepada berbagai ideas, values atau nilai-nilai dan opinion.

Itulah yang dilakukan oleh manusia-manusia yang hidup di Negara-negara maju. Agama, bagi mereka tak ubah nya meruapakan sebuah idea-idea saja, sehingga boleh di soroti dengan kritik, dan termasuk melecehkannya, karena ia bukan makhluk (manusia). Karena itu, di USA the innocence of Muslims, sebuah film yang di anggap menghina ajaran Islam tidak dapat di tuntut ke ranah hukum.

Berbeda, kalau anda menatap seorang wanita dengan tatapan yang seolah-olah anda terangsang gairah sexual nya. Atau menyiuli wanita yang lewat di depan anda, atau memaksa istri anda sendiri melakukan hubungan sexual, anda bisa di tuntut sebagai tindakan criminal dengan tuduha sex harassment.

Pada sisi lain, penganut orang-orang yang beragama, seperti Muslim, di bombing cara berfikir dan hidupnya oleh dogma-dogma agama itu, Mau masuk akal atau tidak, mau mengerti atau tidak, ketika itu perintah dalam al-quran ataupun hadist, kewajibannya tundauk dan taat.

Mengvisualkan saja sosok Nabi Muhammad, adalah di larang didalam ajaraan Islam, apalagi memperololk-oloknya.

Nah, ketika dua komunitas tersebut bertemu pada suatu kasus, seperti yang dilakukan oleh Media Perancis itu, maka terjadilah bunuh membunuh,