Kenapa Bikin Ribet Sendiri

babyMumpung timingnya tepat, saya terus merenung dalam wilayah pegetahuan keyakinan yang saya anut dan saya fahami saja. Kali ini, sekedar ingin bertanya saja, kenapa Tuhan menciptakan makhluk, yang dia sendiri tidak menyukainya!?.

Kan, sebagian diantara kita, berkeyakinan, bahwa Tuhanlah yang telah mencipatakan semua makhluk di muka bumi ini. Kalau kita focus kepada mahluk manusia saja, maka manusia yang baik dan yang buruk, dalam hal akhlaqnya, adalah di ciptakan oleh Tuhan itu sendiri. Suratan taqdir.

Lalu, untuk mengembalikan manusia yang di takdirkan buruk itu, Tuhan kemudian mengutus para nabi dan Para Rosul, serta menurunkan kitab-kitab sucinya sebagai pedoman. Tetapi manusia-manusia yang tidak berhasil di luruskan atau di kebalikan kerel yang di kehendaki Tuhan, maka Tuhan pun akan membalasnya kelak, yang ingkar dari keiginanNya, akan di godok dalam panasnya api neraka selamanya.

Seandainya, Tuhan tidak menciptakan manusia-manusia yang buruk itu, maka tak perlu mengangkat Nabi, tak perlu mengutus rosul, tidak ada pengadilan, tak perlu membuat Neraka.

Hehehe dasar aku yang dhaif.

Advertisements

No Need Devils Playground

To safe people in this world and the hereafter, then God has sent the Prophets and the his apostles and completed with holy books as well, which are collected in various scriptures. Furthermore, we also note, that the Lord has prepared Heaven and Hell, for believers and don’t.

My question is, to God the Supreme paced, why not create humans whose they were set automatically (as like angels) who always follow him. Thus, no need to send the apostles and prophets and holy books, so the system is not complicated Lord !?

This means then there will be no disbelievers (deny his will) and then do not have to also make Devils Playground. That is efficient.

How?

Mohon Pencerahannya Han!!!

IMG_20150616_154049

Supaya manusia selamat dunia da akhirat, maka Tuhan mengutus para rosul dan Nabi kemudian melengkapi dengan menurunkan petunjuk-petunjuk-Nya, yang terkumpul dlm berbagai kitab suci. Selanjutnya, kita juga mencatat, kalau Tuhan telah menyedian Syurga dan Neraka, untuk manusia yang menaatinya dan mengingkarinya.

Pertanyaan saya adalah, kepada Tuhan yang serba Maha itu, kenapa tidak menciptakan manusia (makhluk) yang otaknya sudah di set secara otomatis (seperti Ia mencipatakan maialikat) selalu tunduk dan taah kepadanya. Dengan demikian, tidak perlu mengutus para rosul dan nabi serta menurunkan kitab2 suci segala,Jadi system Tuhan tidak ribet!?

Artinya kagak ada orang yang kafir (mengingkari kehendaknya) dan kemudian tidak perlu pula membuat Neraha. Efisien.

Bagaimana?

Two Type of Hells (Devil Playground)

What a hell, isn't it?

What a hell, isn’t it?

In the Quran it was written that the word for “Damned” or hell comes from the Arabic “Naarun”, it means “fire”. It describes in many phrases “naarun” tell it’s very hot. Perhaps because the Arabian peninsula, known by very hot air temperature, and that the Arab people do not like that. Its very clever then, maybe because of that, the way of Allah to describes Damned/hell with the fire is, to make Arabian scare. That is so called fear of arousing approach.

The problem is then, this may be read by the Eskimos who most like with the heat. Why like heat? It was asked, what is the most fear in Eskimos life? They replied: “Damned/Hell”, too. “What the Damned/hell is?” Hell for us is very cold!.

Well, Arabian like Eskimo’s Damned (too cold) and Eskimos like Arabian’s Damned (too hot).

Berebut Neraka

Bekas Penambangan Timah - dan Timahnya di jadikan godogan api neraka hehehe

Bekas Penambangan Timah – dan Timahnya di jadikan godogan api neraka hehehe

Begitu pada umumnya, kalau gambaran tentang neraka itu, adalah bak suhu api yang teramat dan sangat panas. Al-quran melukiskan, neraka itu dengan kata “naarun”, yaitu api yang panas. Mungkin karena jazirah Arab itu, dikenal dengan teramat panas suhu udaranya, maka orang Arab, sangat tidak menyukainya dengan suhu yang panas tersebut. Cerdik sekali, dalam istilah komunikasi, cara Tuhan menerangkan neraka dengan kata api itu, kepada bangsa arab, adalah fear of arousing atau menakut-nakuti.

Persoalannya, ini mungkin karena Tuhan mengancam orang Arab, dengan kata Api yang panas, lupa, padahal kalau orang Eskimo, paling suka dengan yang panas. Mengapa suka panas?. Ketika ditanya, apa yang paling di takuti dalam hidupmu? Jawabnya :”Neraka”, juga. Di tanyaa lagi :”apa neraka itu?”, kemudian ia menjawab…neraka itu bagi kami adalah dingiiiiinnnnn sekali…

Nah , arab suka nerakanya Eskimo dan orang eskimo suka nerekanya Arab. Berebut neraka jadinya hehehehe

Dialektika Bulan-Bulan Suci

IMG_20150616_153753

Pada saat terjadi dialektika dalam pikiran saya, lalu sampai kepada pertanyaan yang belum dapat terjawab; “Kenapa Tuhan menjadikan kurun waktu tertentu sebagai sangat dan teramat teristimewa, seperti bulan ramadhan pada agama Islam, dan hari hari tertentu pada agama-agama yang lain”. Padahal kita mafhum, kalau system penanggalan itu, bukan kreasi Tuhan. Manusialah yang membuat model penanggalan. Solar system menjadi dikenal sebagai system kalender Masehi dan lunar system di kita dikenal sebagai system penanggalan Hijriyah. Walaupun China, pun Jepang, telah lama sebelum Islam menetapkan kalender Hijriyah, telah menggunakan system calendar lunar itu.

Lalu, ini artinya bahwa apakah Tuhan ikut dengan system yang di buat oleh manusia itu tadi? Sehingga penetapan waktu waktu-waktu istimewa itu ada pada kedua system calendar tersebut.

Atau, pikiran lain adalah, bahwa saat Tuhan menetapkan waktu Istimewa “sayidus suhur – syahrul ramadhan” itu, manusia telah menetapkan system calendar tersebut!.

Apabila memang demikian, betapa malangnya manusia yang hidup di jaman sebelum penetapan waktu-waktu istimewa tersebut, mereka tak mendapatkan privilege dari sang Maha Pencipta, seperti keheibatan bulan ramadhan yang “dapat menghapuskan seluruh dosa-dosa yang diperbuatnya di waktu yang lewat-gufirallahu mataqadamat min dzanbihi”.

Dhaif

Puasa Ramadhan untuk apa?

IMG_20150616_153616Kebiasaan di negeri kita ini, awal puasa di tentukan oleh sidang istbath. Sidang untuk menentukan awal ramadhan, yang di hadiri oleh para ulama dari berbagai golongan. Sidang ini di gelar, karena metodologi yang digunakan, semata-mata yaitu melihat bulan atau rukyat (moon sighting). Padahal metode hisab (calendar calculating), sejak Calendar di cetak untuk tahun depan, sudah dapat ditentukan, kapan sebenarnya puasa ramadhan itu dapat di mulai.

Tidak pernah menjadi ibrah (pelajaran), beberapa kali awal ramadhan dan idult fitri, umat islam di Indonesia, melaksanakan pada hari yang berbeda. Ini disebabkan karena metoda yang berbeda itu tadi. Kalau tahun ini, nampaknya sepakat memulai awal Ramadan di hari yang sama, jangan berharap kalau tahun depan, bisa sepakat pula.

Tetapi, yang tidak pernah berubah dalam bulan ramadhan itu, perilaku umat islamnya. Komsumtif. Sudah menjadi tradisi, pada saat buka puasa, makanan tersedia secara istimewa. Lengkap. Di akhir Ramadan, membeli baju baru, bahkan mulai terbiasa juga, paling tidak membeli sepeda motor kalau tidak mobil baru. Untuk mudik. Kemudian, kembali seperti tahun-tahun sebelumnya, kebiasaan pulang kampong itu, merepotkan semua pihak secara nasional, yaitu macet dan kecelakaan.

Tulisan ini, sebenarnya, hanya ingin menjelaskan, bahwa bulan ramadhan, yang di agung2kan dan di nanti2kan oleh umat islam, karena keistimewaannya itu, tidak menjadi istimewa, karena tidak diistimewakan oleh perilaku umatnya. Akhirnya ramadhan adalah tak ubahnya bak perisitiwa budaya dalam bentuk ritual saja.

Kembali kepada fitrah, tidak tercapai, karena tidak di fahami esensinya!!!