Two Type of Hells (Devil Playground)

What a hell, isn't it?

What a hell, isn’t it?

In the Quran it was written that the word for “Damned” or hell comes from the Arabic “Naarun”, it means “fire”. It describes in many phrases “naarun” tell it’s very hot. Perhaps because the Arabian peninsula, known by very hot air temperature, and that the Arab people do not like that. Its very clever then, maybe because of that, the way of Allah to describes Damned/hell with the fire is, to make Arabian scare. That is so called fear of arousing approach.

The problem is then, this may be read by the Eskimos who most like with the heat. Why like heat? It was asked, what is the most fear in Eskimos life? They replied: “Damned/Hell”, too. “What the Damned/hell is?” Hell for us is very cold!.

Well, Arabian like Eskimo’s Damned (too cold) and Eskimos like Arabian’s Damned (too hot).

Berebut Neraka

Bekas Penambangan Timah - dan Timahnya di jadikan godogan api neraka hehehe

Bekas Penambangan Timah – dan Timahnya di jadikan godogan api neraka hehehe

Begitu pada umumnya, kalau gambaran tentang neraka itu, adalah bak suhu api yang teramat dan sangat panas. Al-quran melukiskan, neraka itu dengan kata “naarun”, yaitu api yang panas. Mungkin karena jazirah Arab itu, dikenal dengan teramat panas suhu udaranya, maka orang Arab, sangat tidak menyukainya dengan suhu yang panas tersebut. Cerdik sekali, dalam istilah komunikasi, cara Tuhan menerangkan neraka dengan kata api itu, kepada bangsa arab, adalah fear of arousing atau menakut-nakuti.

Persoalannya, ini mungkin karena Tuhan mengancam orang Arab, dengan kata Api yang panas, lupa, padahal kalau orang Eskimo, paling suka dengan yang panas. Mengapa suka panas?. Ketika ditanya, apa yang paling di takuti dalam hidupmu? Jawabnya :”Neraka”, juga. Di tanyaa lagi :”apa neraka itu?”, kemudian ia menjawab…neraka itu bagi kami adalah dingiiiiinnnnn sekali…

Nah , arab suka nerakanya Eskimo dan orang eskimo suka nerekanya Arab. Berebut neraka jadinya hehehehe

Dialektika Bulan-Bulan Suci

IMG_20150616_153753

Pada saat terjadi dialektika dalam pikiran saya, lalu sampai kepada pertanyaan yang belum dapat terjawab; “Kenapa Tuhan menjadikan kurun waktu tertentu sebagai sangat dan teramat teristimewa, seperti bulan ramadhan pada agama Islam, dan hari hari tertentu pada agama-agama yang lain”. Padahal kita mafhum, kalau system penanggalan itu, bukan kreasi Tuhan. Manusialah yang membuat model penanggalan. Solar system menjadi dikenal sebagai system kalender Masehi dan lunar system di kita dikenal sebagai system penanggalan Hijriyah. Walaupun China, pun Jepang, telah lama sebelum Islam menetapkan kalender Hijriyah, telah menggunakan system calendar lunar itu.

Lalu, ini artinya bahwa apakah Tuhan ikut dengan system yang di buat oleh manusia itu tadi? Sehingga penetapan waktu waktu-waktu istimewa itu ada pada kedua system calendar tersebut.

Atau, pikiran lain adalah, bahwa saat Tuhan menetapkan waktu Istimewa “sayidus suhur – syahrul ramadhan” itu, manusia telah menetapkan system calendar tersebut!.

Apabila memang demikian, betapa malangnya manusia yang hidup di jaman sebelum penetapan waktu-waktu istimewa tersebut, mereka tak mendapatkan privilege dari sang Maha Pencipta, seperti keheibatan bulan ramadhan yang “dapat menghapuskan seluruh dosa-dosa yang diperbuatnya di waktu yang lewat-gufirallahu mataqadamat min dzanbihi”.

Dhaif