Anything Can Happen

Karena selalu ingin up date tentang apa yang terjadi di Jepang, kemudian saya mencari majalah yg saya perlukan, supaya bisa kemudian berlangganan dan dapat dikirim ke rumah. Berlangsunglah hingga setengah tahun, tetapi kemudian saya ingin mengubah nama saya, dalam alamat yang dituju, untuk tidak mencantumkan gelar akademik, cukup Ali Syarief, Jalan Dr. Setiabudhi Bandung, dan saya menulis perubahan itu kepada distributornya di Tokyo Jepang.

Betapa terkejutnya, ketika majalah tersebut telah berubah nama saya dengan tidak menggunakan gelar akademik sesuai dengan keinginan, tetapi alamat yang tercantum, salah. Ia dialamatkan kepada Ali Syarief di Jalan Asia Afrika-Bandung. Majalah yang sama. Pengirimnya di Indonesia, adalah kantor Pos kita.

Saya kagum. Koq bisa terjadi seperti ini.

Dalam suatu kesempatan, saya bertemu dengan Direktur SDM nya PT Pos Indonesia itu, lalu saya menyampaikan kekaguman tersebut kepadanya sambil memberikan jabatan tangan. Pak Direktur tersenyum mendengar ucapan saya tersebut, tetapi seperti agak kurang nyaman dengan ucapan itu. Lalu dia berkata kepada saya; “saya justru sedih Pak Ali, karena petugas Pos itu begitu hafalnya kepada nama-nama yang tercantum dalam setiap surat/kiriman2 khusus, jadi kalau dia pensiun, kami akan kerepotan. Sesungguhnya kami belum punya system yang baik”.

Kasus lain, di ceritakan oleh teman German saya, yang lama juga telah tinggal di Indonesia. Di sebuah Café, Bandung utara, dia menjelaskan ketika ingin mengirim paket berupa baju batik, untuk cucunya yang berada di Zwickau German.

Karena paket itu, harus di terima pada hari tertentu, jadi paket yang ia kirimkan itu, ia pantau melalui internet. Betapa schocknya, paket itu tidak pernah beranjak dari kota Bandung, padahal hampir dead line, baju batik itu harus di pakai oleh cucunya di German. Tentu saja teman saya itu murka atas kejadian ini.

Tetapi sadar akan dirinya berada di Indonesia, lalu ia harus menahan diri, dan cukup dengan mengusap dada.

Namun, pada hari dimana cucunya harus mengenakan batik itu, ia sangat terkejut lagi, ternyata batik yang dia kirimkan, sudah di pakai oleh si Cucunya itu, ia melihat melalui photo yang ia terima dari internet.

 

Advertisements

AKU vs Aku

AKU adalah bukan Aku.
Bila AKU yang menciptakan mu, maka kamu adalah sosok yang sesungguhnya kuinginkan. Bukan yang kemudian, malah, menentang AKU
Kalau itu yang terjadi, maka itu bukan AKU. Tapi Aku.
Karena itu, AKU tidak perlu mengutus kamu. AKU bisa sendiri. Berbicara kepada setiap hatimu. AKU tidak menggunakan bahasamu, yang seringkali malah kamu tidak mengerti. AKU punya bahasa sendiri. Yang setiap orang bisa mengerti dan faham.

Ada yang bertanya kepada AKU. Kamu itu sesungguhnya siapa? Apakah kamu itu berambut pajang, apakah kamu itu laki-laki, apakah kamu itu yang pengasih dan penyayang itu? Sekaligus yang bengis?
AKU tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Kenapa, hey AKU tidak bisa menjawab? Karena aku adalah AKU, jawabku.

Tapi AKU ingin jujur kepadamu. Dan sekaligus menyampaikan apresiasi yang sedalam dalamnya. Karena yang sesungguhnya sang pencipta itu adalah kamu. Sang maha pencipta. Karena tanpa karya ciptaanmu AKU ini tidak akan pernah ada.

Futana san