NEGARA KHILAFAH INDONESIA

Membaca judul tulisan ini, pasti ada yg bertanya begini, apaan lagi ni orang!. Biasanya, orang yang hatinya bertanya seperti itu, rasa keingin tahuannya, tinggi. Lalu membaca terus sampai habis tulisan ini. Nah..orang yang kaya gitu itu, menurut saya tertipu hahahaha….

Jadi begini ya. Bahwa Nagara Khilafah itu, sesungguhnya “tidak ada”!!! Bagi yang suka Khilafah, tunggu dulu! Jangan ngamuk dulu, saya bilang tidak ada. Yang tidak suka Khilafah, diakhir tulisan ini juga anda akan bingung, kalau Indonesia itu sesungguhnya sudah Khilafah.

Penjelasannya sesederhana ini. Jadi diera Rosulullah tidak disebut Negara Khilafah, tapi disebut sebagai “system Negara Khilafah Rosulullah”. Disitu Nabi Muhammad SAW, apa yang dikatakan oleh Machfud MD, Ia sekaligus sebagai Kepala Executive, Ketua Legislative dan  sekaligus Judicative.

Selanjutnya,  Contoh lain, Saudi Arabia. Ia disebut sebagai menganut System Negara Khilafah Kerajaan Saudi Arabia. Kepala Negaranya seorang Raja. Bentuk Negaranya Monarchy. System Negara Khilafah Republic Iran. Kepala negaranya dipimpin oleh seorang Presoden dan Para Mullah (anggota Dewan). Begitu juga System Negara Khilafah Republic Mesir, dipimpin oleh seorang Presiden. Brunei Darussalam, dipimpin oleh seorang Sulthan, dan seterusnya.

Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut hemat saya, Indonesia sudah cukup disebut sebagai System Negara Khilafah Indonesia.  Kenapa? Presidennya, hampir tidak mungkin terjadi bila tidak beragama Islam. Walau konstitusinya, tidak menuliskan tentang agamanya.  Tetpi Dalam system Demokrasi liberal yang dianut di Indonesia saat ini, maka tetap kekuatan itu ada pada umat mayoritas!!

Fakta lain,  Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, dijadikan sebagai Pedoman dan Haluan Negara, dalam penyelenggaraan Kepemerintahan ini. Perangkat khilaf lainnya antara lain, ada punya UU Perkawinan, diatur menurut syariat agama. Ada UU Haji. Pemerintah berfungsi sebagai biro perjalanan, menyelenggarakan Ibadah Haji untuk umat Islam. Ada UU zakat. Bahkan mendirikan rumah ibadahpun, diatur oleh nagara. dll.

Jadi Negara Khilafah Indonesia itu, seprti apa? Ya sudah seperti sekarang ini. Kalau mau diubah seperti mau mu, ya pada berjuanglah, sampai tujuan mu berhasil. Harus gigih berjihad, seperti orang-orang yang berfaham komunisme di negeri ini.

Yg punya pikiran lain, silahkan komen, kasih like dan share hahahaha!!!

FALSAFAH WAYANG KULIT; Tokoh Kiri itu Jahat. Tokoh Kanan itu Baik.

Wayang yang ada ditangan kiri dan kanan Ki-Dalang,  itu tidak sembarangan. Ada filosfinya,  Siapa figure yg ada kiri dan Siapa figure  yang  ada disebelah kanan, berkaitan dengan watak wayang itu sendiri.

Ki-Dalang, biasanya memegang tokoh wayang yg “berkarakter baik” ada ditangan kanannya. Dan tokoh wayang yg “berkarakter buruk” ada disebelah kiri Ki-Dalang.

Dalam pagelaran Wayang Kulit, penonton dibagi kedalam dua kelompok. Penonton yg VIP dan VVIP duduk menonton dibalik layar. Di depan Dalang. Dan penonton rakyat jelata, biasa menonton di belakang Dalang.

Penonton Elit, seperti Presiden, Gubernur, Bupati umpamanya, mereka duduk menghadap layar, didepan Dalang.  Mereka hanya bisa melihat wayang itu dlam bayang bayang hitam dan putih.

Dan tokoh wayang yg berkaraketer baik dan yg buruk, sebaliknya dg Dalang.

Penonton umum, melihat wayang berwarna warni, apa adanya, dan si tokoh yang baik dan yang buruk seperti bagaimana Dalang memegangnya, karena ada dibelakang ki-Dalang.

Sekarang faham kan? : Siapa yg suka salah judgment itu?  Mereka yang Kelompok Elit itu. Duduk didepan Dalang, mereka melihat masalah hanya hitam putih saja. Dan benar dan salah menjadi terbalik.

Rakyat kebanyakan!, yg duduk dibelang dalang, yg justru mampu melihat masalah yg berwarna warni dan apa adanya itu.

Terlepas dari apa yg saya tulis diatas,ingat ya!  Tokoh kiri itu jahat dan Tokoh Kanan baik.

Pak Harto atau Jokowi Yg Otoriter?

Pertanyaan seperti pada judul tulisan ini, akhirnya muncul juga dalam benak saya. Itu karena dampak dari empiris dilapangan, melihat berbagai kebijakan dan gerak langkah politiknya.

Lalu, siapa sebenarnya yang otoriter itu? Nah jawaban dari pertanyaan ini, harus kita runtut melihat kepada sumber-sumber acuannya.  Mari kita mulai.

Pak Harto dipilih hingga 6 kali berturut-turut, oleh MPR RI. Salah? Melanggar Hukum? Otoriter? Jawabnya, TIDAK. Mengapa? Karena konstitusinya memang begitu. Membolehkan. System pemilihan Presiden waktu itu, Presiden dipilih oleh anggota MPR RI, setiap 5 tahun dan boleh dipilih kembali pada pemilihan berikutnya. Berkali-kali Syah.

Kenapa bisa terpilih terus? Sekali lagi system pemilihannya memang begitu. Anggota MPR RI itu, sepertiganya dipilih Rakyat melalui Pemilu, sepertiganya diangkat dari Fraksi ABRI, yang ditetapkan oleh Keputusan Preisiden, sedangkan Utusan Golongan dari daerah-daerah, juga ditetapkan oleh Keppres. Presiden sendiri yang mengatur.

Kemudian pertanyaan berikutnya, bila Pak Harto memimpin negara saat ini, dimana UUD dan turunan UU nya sudah berubah itu,  bagaimana?  Saya  tanya wawancara imaginer dengan beliau yah!

Bagaimana Pak Harto?, tanya saya. Pak Harto bilang begini : “konsep saya dari awal, Pancasila dan UUD 1945 itu harus dilaksanakan secara murni dan konsekuen”, begitu jawabnya.

Sekarang, saya giliran nanya imaginer  juga pada Jokowi. Sampiyan mengapa membubarkan HTI? Seperti Pak Harto membubarkan PKI! “Ya, nggak tahu….”, begitu kira kira jawabnya. Syah, kok..itu kan aturan hukum kita, saya turut bantu menjawabnya, begitu kira-kita kata dia.

Nah…Jadi sumber dari segala masalah itu, memang system hukum kita buruk.

RUU HIP Untuk Siapa?

Aneh bin nyata, tapi ini hanya terjadi di Indonesia. Orang masih sibuk bahkan hingga baku hantam, membicarakan soal ideologi negara Pancasila. Kapan dilamalkannya? Pernah dengar nggak, orang America debat dan diskusi soal the Declaration of Independence? Atau orang China ngomongin “San Min Chui?”. Dan Liberté, égalité, fraternité (Kebebasan, keadilan, persaudaraan, di Perancis!

Pertanyaan  kemudian, jadi Pancasila itu untuk siapa?  Siapa yang wajib mengamalkan?

Begini. Kita simulasikan. Sila pertama misalnya, Ketuhanan Yg Maha Esa. Saya ambil contoh, Ketua Pembina BPIP, Megawati Soekarno Putri. Saya beri score dalam pengamalannya, karena dia sebagai Ketua Dewan Pembina BPIP, dengan nilai 100. Mahfudz MD, Tri Soetrisno, Syafei Maarif, dll saya beri mereka cukup dengan angka 98. Kemudian saya dan Mas Wardi (Tukang Beca, langganan Ibu saya, bila pergi belanja ke Pasar) dinilai minus 5. Dapat satu poin pun, tidak. Bagiamana? Apakah saya tidak Pancasilais? Apakah Saya  dan Mas Wardi harus keluar dari Indonesia, karena tidak kompeten sebagai warga  Negara Indonesia?

Disini saya ingin menasehati kepada mereka yang nilainya sudah tinggi tersebut. Ibu dan Bapak-bapak yang saya muliakan. Saya, Mas Wardi dan anda semua, adalah warga negara RI, sesuai dengan KTP masing-masing. Kalau anda sudah pada grade paling atas, itu bagus. Tapi saya, bahkan angkanya dibawah 1, minus malahan. Tidak ada apa-apa, karena itu sesuai dengan kapasitas saya dan Mas Wardi. Saya tidak harus setinggi anda Megawati yg jujur, karena berbagai kekuarangan dan kelemahan.  Juga tidak harus sehebat Magfudz MD, yang pinter itu, dalam mengamalkan Pancasila.

Jadi kembali ke Judul tulisan ini. Lalu untuk Siapa Pancasila itu?

Pancasila itu, yang ke 5 sila-silanya ada tersurat dalam pembukaan UUD 45, fungsinya adalah sebagai “sumber  dari segala sumbur hukum”. Kata si Ahok, yang pernah dihukum 2 tahun, karena terbukti bersalah menista Agama Islam,  bahkan pernah bilang  “Konstitusi itu lebih tinggi dari Kitab Suci”.  Nah, garis besarnya adalah Pancasila itu adalah “menyusui”, istilah dari alm Prof. Sarjono, kepada Batang Tubuh UUD dan produk UU lainnya.

Nah kan, telanjang bukan? Terang sekali! Bahwa Pancasila itu, harus diamalkan oleh mereka yang tugasnya membuat UU dan kebijkaan-kebijakan negara lainnya. Jadi RUU Haluan Ideologi Pancasila itu, isinya  adalah Pedoman dan tata cara serta syarat-syarat  membuat UU yang disusui oleh Pancasila itu. Bukan mengubah Panca ke Tri Sila. Masa UU mau mengubah Konstitusi?

Seandainya ada UU, sebut saja UU Intoleransi, sebagai penjabaran dari sila pertama itu. Nah..kemudian rakyat  dalam pengamalan Sila Ketuhan yang Maha Esa tersebut, disitu hidup berpancasilanya. Saya, Megawatai, Machfudz MD, Syafei Maarif dan yang lainnya, harus tunduk dan ta’at sebagai warga bangsa, harus mengamalkan UU itu.  Rakyat yang toleran terhadap berbagai keyakinan yang berbeda, baik sebagai pelaksanaan sila pertama dan sekaligus sila ketiga, maka nilainya top.

MENENGADAH KE BAPAK LANGIT

Ternyata terang itu hanya ada disini.
Di Ibu Bumi.
Ada jasad.
Ada wujud.
Ada banyak ruh-ruh keluar.
Nampak apa adanya.
Ketika menengadah ke Bapak langit.
Menerawang.
Dalam kesadarannya.
Nur (terang) itu menjadi dzulumat (gelap) karena diselimbuti tak ada wujud.
Samar dari yang wujud nafsu lahir.
Saat itulah aku bisa menari-nari seindah alun nada senyap.
Dalam kegelapan yg terang.
Tak ada lagi jerit hingar bingar.
Terbaca mata hati.
Ketika itulah si Sang Pemilik raut mukanya sumeringah.
Senyum.
Karena tdk diwujud wujudkan.
Namun ketika ia dibayang bayangkan dalam angan angan.
Di ukir ukirkan pada bentuk jasadnya.
Si Sang Pemilik semakin jauh menjauh.
Mengecil.
Tilem menghilang.
Tak ada kekuatan kasih lagi.

Cross Culture Institute 2020

 

Cross Culture Institute

Assessment

In the early 2000 when I was assigned as Country Representative for Australian Business Volunteer, Australian NGO funded by AusAid, met Prof. Edward T. Hogan – McQuarrie University Lecturer, and started working together with him. My deep understanding on Japanese Culture (I was awarded scholarships by AOTS – Japanese government, to study in Japan) and Mr. Hogan‘s experiences on how the Chinese do their businesses were interested by PT. Telkom (Training Division). We then spoke on Cross Culture topics in various occasions, different locations in country and overseas for years.

Starting 2010 I established Cross Culture Institute. This organization has the mission that because we live in this era of globalization where cultural differences are often crashed that caused losing opportunities and chances.

Cross cultural intelligent is the ability of people for business people, diplomats and student to recognize, understand and correctly respond to people, incidents or situations where misunderstandings might arise due to cultural differences.

There are four Ls of cultural competence. Be able to look and listen, learn, and live with the people you are working with. You need to be aware of the cultural differences, be able to absorb them, and apply them in every decision you make.

There’s a famous Indonesia proverb, which I’m sure you are all aware of serves as an example of cultural awareness. When pointing a finger at someone, remember 3 fingers are pointing at you. It’s a proverb I’m fond of for many reasons. But it also doubles up as a mirror.

When we visit other countries and cultures, we are always putting up a mirror and trying to see ourselves in it. Often we blame others when the problem is in ourselves.

Why is cultural competence important? Considering others from your own point of view does nothing to build respect, or trust. Without respect and trust how can you do business with each other? More importantly, how can you keep doing business with each other?

What Do we work?

  1. In-house training A ~ Z on Cross Culture for all segments (from student to top managers)
  2. Seminar and Practical on Cross Culture

One Day Seminar in your country and 3 Nights and 4 Days Practice in Japan (living together with Japanese families).

  1. International Program Snow Camp on end of March in Nagano Prefecture, Summer Camp in Japan, Shanghai and in Indonesia on every July, etc
  2. Cross Culture Program/Home Stay Program, in Japan, Korea, USA, Mexico, Indonesia anytime

Our Program with HIPPO

Overseas Home Stay Program for Family Exchange

The Family Exchange is a 1~2 weeks home stay program for individuals and families with children. Since 1981 the program has expanded to include exchanges with over 20 countries worldwide. Approximately 400 members go overseas annually to initiate friendship

Overseas Home Stay Program for Youth Exchange

The Youth Exchange is a home stay program during the spring and summer ranging one week to one month, and is catered to youth from the age 10 up till university students. Early year, up to 650 children participate in an unforgettable experience in another country.

Transnational Home Stay in Japan

The Hippo Transnational Home Stay Program has welcomed more than 5000 people from over 120 different countries to participate in Lex Home Stay In Japan. The participants are exchange student, company trainees, families and youth from our partner organizations all over the world, and have the chance to immerse themselves in Japanese culture while taking part in our various Hippo activities.

Lex Internship to Japan

The Lex Internship to Japan brings participants to Japan for an extraordinary experience at none other than the LEX HIPPO Office in Tokyo! Participants get to be at the hub of Hippo activities and can look forward to an exciting experience of multilingualism at our internationally-oriented office. From running events, to participating in workshops, to acting as liaisons, intern can be sure that there will be a dull day at the office.

Academic Year Long High School Exchange

The Academic Year Long High School Exchange has over 20 years of history and continues to expand every year. The program not only sends Japanese students abroad, but also accept high school students from around the world to study in Japan. Approximately 120 Japanese students leave to study in places ranging from the US, to France, to Thailand, to Indonesia, where they stay with host families and absorb the daily rhythms of their host cultures. This year is also saw 24 students from 8 different countries coming to Japan for a year. The exchange truly is a unique opportunity for growth.

Hippo Asian Project – Asian Multilingual Youth Nature Camp

To promote multilingual friendships in Asia, the Hippo Asian Project was launched with two Youth Camps under its wing. The Asian Multilingual Youth Camp in Shanghai and the Asian Multilingual Camp in Thailand are geared toward secondary school Student and Youth from China, Thailand, Korea, Japan, and all over Asia. Each year, participants enjoy making new friends from different countries and sharing heir languages, all while taking part in a variety of outdoors activities. These youth get to enjoy the beauty of nature while gaining a broader perspective the world and developing new friendships.

World Internship Project (WIP)

The WIP is an exiting opportunity providing adult of all ages with a life-changing exchange experience in another country. WIP interns spend 1-12 months volunteering with LEX in Japan, Korea, the US, or Mexico, or with our various partner organisations in up to 40 different countries around the world. Interns will have the opportunity to live with host family and absorb the rhythms of daily life. The program is open to qualified adults, ages 18 and up.

Multilingual Snow & Nature Camp

The Snow and Nature Camps, held annually in Japan in March and August respectively, provide the perfect chance to enjoy Hippo’s multilingual activities in the beauty of nature. The Snow Camp take participants to snowy landscape of Nagano Prefecture in March, where participant get to play in a winter wonderland before retreating to traditional minshuku, traditional Japanese inns, at night. The Nature Camp, also held in Nagano, is awash in flora and fauna and full of exiting outdoor activities. Open to people around the world, here camps are truly multilingual, multilingual experience!

Testimonies

Indonesian To Japan

 1. March 25, 2020~April 3rd, 2020 Cross Culture Mission to participate Snow Camp        Program in Nagano and Home Stay (Victory School-Bekasi)

2.More than 40 Campus People: Rectors, Professors, lecturer and Academic Staff from The Association of Computer Universities (APTIKOM) in whole Indonesia, April 2018. Home Stay Program.

3. Victory School Bekasi, International School, March 2018 (Snow Camp and Home Stay) – This school participates every year since 2010. Home Stay, Snow Camp and Land Tour.

4. BSD BCA Employees, March 2018. Home Stay Program

5. ITB Student, 2017, Home Stay Program

6. Photographer Club, 2016, Home Stay Program

 

Japanese To Indonesia

  1. December 27, 2019~January 1st, 2020,  Japanese 14 Families stayed in Bukit Tinggi, West Sumatera
  2. December 25, 2018, 25 families to Malang, East Java
  3. December 25, 2017, 20 Families to Jakara, Bogor, Bandung and Bekasi
  4. Summer Nature Camp in Lembur Pancawati Bogor
  5. December, 2016, Home Stay and Cultural Mision 16 Families in Jogyakarta
  6. December 2015, 20 Families in Bandung, Jakarta, Tangerang and Bekasi

Note

Cross Culture Institute has been pair partnership with Hippo Family Club Japan. Hippo Family Club is a Japanese NGO that 22K members seriously learn foreign languages as well as cultures. Personally I am also Hippo Family Club Representative for Indonesia.

What Is Hippo

Hippo Family Club offers natural multilingual language acquisition activities under the theme of “human language.” Members of all ages, from babies to senior citizens, comprise over 7,000 language clubs (known as “families”) located throughout Japan. There, members utilise original Hippo multilingual CDs, dance to world music, and play games. All members, from adults to children, families to single members, enjoy gathering together.

In this vein, Hippo cultivates environment where many languages can be heard and all cultures and languages can be treated with fairness and respect. The purpose of Hippo Family Club is to foster human beings with minds open to diversity.

 

Cross Culture Institute & Training Program

About Cross Culture Institute

In the early 2000 when I was assigned as Country Representative for Australian Business Volunteer, Australian NGO funded by AusAid, met Prof. Edward T. Hogan – McQuarrie University Lecturer, and started working together with him. My deep understanding on Japanese Culture (I was awarded 2 scholarships by AOTS – Japanese government, to study in Japan) and Mr. Hogan ‘ s experience on how the Chinese do their businesses were interested by PT. Telkom (Training Division). We then spoke on Cross Culture topics in various occasions, different locations in country and overseas for years.

Starting 2010 I established Cross Culture Institute. This organization has the mission that because we live in this era of globalization where cultural differences are often crashed that caused losing opportunities and chances.

Cross cultural understanding is the ability of people for business people, diplomats and student to recognize, understand and correctly respond to people, incidents or situations where misunderstandings might arise due to cultural differences.

There are four Ls of cultural competence. Be able to look and listen, learn, and live with the people you are working with. You need to be aware of the cultural differences, be able to absorb them, and apply them in every decision you make.

There’s a famous Indonesia proverb, which I’m sure you are all aware of serves as an example of cultural awareness. When pointing a finger at someone, remember 3 fingers are pointing at you. It’s a proverb I’m fond of for many reasons. But it also doubles up as a mirror.

When we visit other countries and cultures, we are always putting up a mirror and trying to see ourselves in it. Often we blame others when the problem is in ourselves.

Why is cultural competence important? Considering others from your own point of view does nothing to build respect, or trust. Without respect and trust how can you do business with each other? More importantly, how can you keep doing business with each other?

What Do we do?

1. In-house training ABC on Cross Culture for all segments (from student to top manager)

2. Seminar and Practical on Cross Culture

One Day Seminar in your country and 3 Nights and 4 Days Practice in Japan (living together with Japanese families).

3. International Program Snow Camp on end of March in Nagano Prefecture, Summer Camp in Japan, Shanghai and in Indonesia on every July

4. Cross Culture Program/Home Stay Program, in Japan, Korea, USA, Mexico, Indonesia anytime

Testimonies

Indonesian To Japan

1. More than 40 Campus People: Rectors, Professors, lecturer and Academic Staff from The Association of Computer Universities (APTIKOM) in whole Indonesia, April 2018.

2. Victory School Bekasi, International School, March 2018 (Snow Camp and Home Stay) – This school participates every year since 2010

3. BSD BCA Employees, March 2018

4. ITB Student, 2017

5. Photographer Club, 2016

Japanese To Indonesia

1. December 25, 2018, 25 families to Malang, East Java

2. December 25, 2017, 20 Families to Jakara, Bogor, Bandung and Bekasi

3. Summer Camp in Lembur Pancawati Bogor

4. December, 2016, 16 Families in Jogyakarta

5. December 2015, 20 Families in Bandung, Jakarta, Tangerang and Bekasi

Note

Cross Culture Institute has been pair partnership with Hippo Family Club Japan. Hippo Family Club is a Japanese NGO that 22K members seriously learn foreign languages as well as cultures.

Personally I am also Hippo Family Club Representative for Indonesia.

41

People Reached
4

Engagements

 

Dibisiki Tuhan

Saatku menerawang kelangit yang tak bertepi

Pikiran dan qalbuku, sumeringah melihat bintang gemintang

Menikmati ayat suci alam

Seperti banyak lukisan dibuku tua

Tiba tiba, ada yang membisik ketelinga kiri

Aku tuhan palsu

Mau apa? Kutanya

dia terus mengoceh.

Mengaduk aduk semua cell yang ada dilorong otaku

kemudian kunyahannya dimuntahkan ke muka ku

baru aku ngeuh

ada bau tercium

Tuhan palsu itu berbisik lagi

Aku tidak menurunkan buku

Kenapa?

Karena aku tuhan.

Loh?

Aku bisa membuat kamu mengerti

tak harus membaca dan mendengar

Kok bisa?

Karena aku tuhan

Terus?

Aku juga tidak punya pesuruh.

Tidak perlu

Kenapa?

Karena aku tuhan

Jadi kamu itu siapa?

Aku sendiri tak bisa menjawab

Kenapa?

Karena aku tuhan

 

 

 

Jabong

Ketika sang surya mulai menatap

Menghembuskan kehangatan

Saat Srangenge mulai meredup

Kemudian datanglah hawa sejuk dari gunung

Lalu tidurku menjadi lelap

Semua ada

Walau tidak istimewa

Tapi kesederhanaan itulah, membuatku sehat

Menjadi terus semasa muda

Karena oxygen banyak dan air alam nan jernih

Iya memang Desa

Tapi hari hari bisa seperti hidup di Texas

Tidak saling mengganggu

Kecuali panggilan sholat seperti di Kota

Berisik

Banyak yg iri aku hidup didesa

bahagia

Tenang, tertib, dan sunyi

Hanya musik yg kusuka yg melantun

Selebihnya nyanyian berbagai burung liar

Sekarang

Teman-teman yang jauh menjadi satu atap

Seperti serumah saja

Jadi kenapa harus tinggal di tempat yg sumpek

Bertebaranlah menikmati karunia semesta alam

 

Jokowi Blunder Parah

Saya kira sudah pd puncaknya, pemahaman Jokowi tentang ketatanegaraan, terlihat dangkalnya. Aneh bin ajaib, kalau bukan sedang menggigau, ada pernyataan ” Pemimpin Negara itu perlu penglaman”.

Lupa dia, waktu nyalon jadi walikota, pengalaman pernah jadi walikota dimana? Lupa dia, waktu nyalon jadi gubernur, pernah pengalaman gubernur mana? Lupa dia, waktu nyapres dulu, pernah pengalaman jadi presiden mana?

Pemimpin politik itu, TIDAK PERLU pengalaman, ia hanya perlu mempunya visi misi yang jelas!!!. Gagasan kedepan.  Bukan prestasi masa lalu.

Beda dengan pemimpin karier, seperti tentara. Ada syarat syarat khusus, untuk sampai pada posisi Jenderal.

Jujur, saya tdk berani mengatakan dia itu tolol, tapi saya berani mengatakan, dia tidak faham membaca UUD 1945.

Dalam UUD 45 (yang diamandemen) secara tersurat tidak ada ketentuan harus berpengalaman dan berprestasi. Syarat berpengalaman secara tersirat, ada dalam kalimat “mampu secara jasmani dan rohani”.

Ini parah tingkat Dewa.