Agum Luncurkan Biografi, Bantah untuk Kampanye

as-dedy-agum

Jakarta, Kompas – Calon wakil presiden Agum Gumelar, Senin (28/6) malam, di Jakarta, meluncurkan buku biografinya yang berjudul Agum Gumelar, Jenderal Bersenjata Nurani. Selain mengupas perjalanan hidupnya, dalam buku tersebut juga dituturkan peran mantan Panglima Komando Pasukan Khusus tersebut dalam saat-saat terakhir pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

Peluncuran buku setebal 271 halaman yang digelar di halaman Museum Gajah tersebut, dihadiri oleh banyak tokoh penting. Tampak hadir pengamat militer Salim Said, Ketua DPP PDI Perjuangan Roy BB Janis, Duta Besar Spanyol Damaso De Lario, para purnawirawan jenderal seperti mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Mayjen TNI (Purn) Wismoyo Arismunandar, mantan Wakil KSAD Mayjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, dan mantan KSAD Jenderal TNI (Purn) Subagyo HS, juga artis Titiek Puspa.

Walau diluncurkan saat musim kampanye calon presiden/calon wakil presiden, cawapres Hamzah Haz itu membantah jika peluncuran buku biografinya tersebut sama sekali tak ada kaitan dengan pencalonan dirinya sebagai capres. Biografi itu, menurut Agum, dibuat dengan niat membagi pengalamannya dengan masyarakat, khususnya generasi muda. “Jadi ini bukanlah buku yang dibuat sebagai bantahan atas sebuah peristiwa atau isu yang beredar, peristiwa yang saya tuturkan di sini banyak saksinya,” ujar Agum.

Dalam buku yang ditulis oleh Retno Kustiati dan Fenty Effendy tersebut dikisahkan peran Agum saat-saat genting pemerintahan KH Abdurrahman Wahid pada 2001. Ketika itu perseteruan antara Abdurrahman dengan pihak legislatif mencapai puncaknya. KH Abdurrahman saat itu berniat mengeluarkan Dekrit Presiden yang berisi perintah pembubaran parlemen. Namun, Agum yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik Sosial dan Keamanan berupaya mencegah Abdurrahman mengeluarkan Dekrit tersebut untuk mengamankan posisinya sebagai presiden. Namun, saran Agum itu ditolak oleh Abdurrahman.

“Saya tidak bermaksud menyudutkan Gus Dur, saya siap jika ada respons terhadap pengalaman yang saya tuturkan dalam buku ini,” kata Agum. Bahan lainnya dalam biografi tersebut antara lain berisi pengalaman Agum memimpin Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) hingga Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI).(DOT)

Hendarmin – Adnan Buyung Nasution – Emil Salim – Me

as-buyungas-emilsalim

Professor Dr Emil Salim, (born in Lahat, South Sumatra, Indonesia, 8 June 1930) is an economist and former Minister of Indonesia. Born of Minangkabau parents, both from the village of Koto Gedang in West Sumatra. His uncle is Agus Salim, one of the founding fathers of the Republic of Indonesia and Minister of Foreign Affairs in the early 1950s.

Professor Salim graduated from the Faculty of Economics of the University of Indonesia in 1959. He then obtained a PhD degree in Economics from the University of California, Berkeley, and returned to Indonesia to a teaching position at the Faculty of Economics of the University of Indonesia in 1964. In 1977 he appointed the position Professor of Economic Development.

Professor Salim has held a number of governmental positions, including:

  • 1966: member of the team of economic advisers to President Suharto
  • 1967-68: member of the team of advisers to the Minister of Manpower.
  • 1967-1969: Chairman of the technical team of the Council for Economic Stability and a member of the Gotong Royong Parliament.
  • 1969: Vice Chairman of Bappenas (the National Development Planning Agency)
  • 1971: Minister of State for the Improvement of the State Apparatus.
  • 1973-1978: Minister of Communication
  • 1978-1983: Minister of State for Development Supervision and the Environment
  • 1983-1993: Minister of State for Population and the Environment.
  • 2007-present: Member of the Advisory Council to President Yudhoyono, as the adviser for environment and sustainable development issues.

Professor Salim has chaired the Foundation for Sustainable Development and the Kehati Foundation, and co-chaired the United States-Indonesia Society. He is a member of the Association of Indonesian Moslem Intellectuals.