Apa Tuntutan Abu Sayyaf itu?

Setelah Bapak Presiden memberikan konferensi Press malam yang lalu, tentang pembebasan sandra kita oleh kelompok Abu Sayaf, di jelaskan karena hal ini adalah berkat operasi intelegen, dan terkesan tanpa ada uang tembusan sama sekali.

Berbeda dengan apa yang dikatakan Ibu Mega, kalau pembebesan itu karena uang tebusan. Disitulah saya menjadi penasaran, kemudian mencari tahu, bagaimana Koran-koran philipina memberitakan tentang pembebasan sandra kita itu, dan begini mereka menulis;

” When asked whether ransom was paid for the Indonesians’ release, the army officer said he was unaware of any payment, but noted that the Abu Sayyaf traditionally has released captives only after money has been paid.”

Sementara menurut CNN Phillihine … Tan, meanwhile, said the victims were dropped off in front of his house between 10 to 11 in the morning.

Lalu siapa yang memediasi?

According to Tan, the local government has been in talks with the Abu Sayyaf for the release of its hostages. Tan added that the Moro National Liberation Front (MNLF) mediated and helped in the release of the Indonesian hostages.

Balik lagi ke awal, bahwa kelompok Abu Sayaf itu, setelah menyandra WNI, tidak ada kaitannya/tuntutan untuk kepentingan agama, politik, ekonomi, social, dll. an sich hanya minta uang tebusan sebesar 14M.

From the beginning Abu Sayyaf demanded was a Rp14M ransom to release Indonesian Hostages, nothing to do with politics, religion or any other purposes.

That’s not a big deal, isn’t it?

 

 

Advertisements

Tutur Bahasa itu adalah Watak

Saya mulai dengan ini, Watch your thought, for they become words. Watch your words, for they become actions. Watch your actions, for they become habits. Watch your habits, for they become characters. And watch your habits, for it become your destiny.
Kalau kita fahami kenapa orang tua kita dengan sengaja mendidik anak-anaknya untuk belajar bertata krama terutama dalam berbahasa, maka cukup beralasan bukan, apa yang saya tulis diatas?
Jangan pernah bangga, punya anak yang sombong, yang kasar, yang tidak santun, dan apapalgi yang tidak bereadab!. Karena nilai-nilai itulah, manusia yang satu, menjadi berbeda dengan manusia yang lain.
Ingat yah, ungkapan “marah” atau “kalem” adalah vibrasi jutaan tahun yang lalu, yang asalnya sama, yaitu soal pengendalian emosi. Dan kemampuan self control itu menjadi syarat dalam leadership.

KAUM LGBT Adalah KAUM Yang SAKIT

Sekilas saya mendengar ungkapan KH Ali Mustafa, mantan Imam Besar Masjid Istiqlal mengatakan; “tidak ada seorang ulama manapun, yang menerima keberadaan LGBT”, begitu dalam acara di ILC.

Pernyataan beliau menggelitik saya, yang kemudian melahirkan dialetika dalam pikiran saya, sehingga bertanya-tanya dalam hati, jadi siapa kaum LGBT itu yang menciptkannya? Apakah Tuhan keliru berfirman “laqod khalaqna isnsana fie ahsani taqwin”, artinya “sesungguhnya aku ciptakan manusia itu dengan sebaik-baik bentuk (sempurna). “Tetapi kemudian mereka masuk neraka yg berada dipaling dasar dalam api neraka”. Ayat lanjutannya adalah “kecuali orang-orang yang beriman dan yang beramal sholeh”.

Bahkan sebagian dogma umat beragama, terutama muslim-menurut sepengetahuan saya, meyakini bahwa kehadiran masing-masing kita di dunia ini, telah menjadi suratan sang maha mencipta. Telah tersurat di lauhful mahfudz sebelum manusia itu lahir, kelak manusia akan menjadai siapa dan apa.

Sementara kalangan ilmuwan, Nampak lebih gamblang menjelaskan, kalau kaum LGBT itu adalah mereka yang terganggu jiwanya alias sakit atau maridhon.

Nah, kalau Kiai itu merujuk kepada fatwa para ahli jiwa, maka seharusnya tak ada kecaman fatwa ulama kepada mereka, karena mereka adalah kaum yang sakit, yang tidak terkena berbagai kewajiban kepada mereka, seperti puasa, sholat jumat, dan lain sebagainya. Apalagi mereka itu adalah kaum yang sakit jiwanya, maka sholatpun, malah, tidak wajib Ia adalah kaum yang sakit.

 

 

Mencopot Mahkota KPK

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, apa sebenarnya yang melemahkan lembaga KPK yang sekarang eksis itu, sehingga harus di perkuat dengan RUU yang baru?. Inilah yang kemudian menjadi pro dan kotra di masyarakat saat ini, karena tidak di fahami esensi penguatan KPK itu pada bagian yang mananya.

Para pendukung RRU KPK, seperti PDIP sebagai motornya dan partai-partai koalisi pemerintah lainya, sepakat bahwa RUU KPK tersebut, adalah upaya penguatan KPK itu sendiri. Tetapi yang menarik adalah, ada tiga partai lainnya, yang sejak awal menolak membahas RUU KPK itu adalah Gerindra, disusul oleh Partai demokrat dan kemudian PKS.

Johan Budhi-Jubir Presiden, kali ini dengan piawai menjelaskan, bahwa Presiden Jokowi menegaskan RRU KPK itu harus dalam rangka penguatan. Saat sebagai salah seorang ketua KPK, Johan Budhi tidak setuju dengan RUU KPK sekarang. Tetapi ia sendiri kemudian menjelaskan, kontroversi di masyarakat soal RUU KPK itu, adalah sekedar rumor saja, karena tidak transparan RUU tersebut dapat di baca oleh masyarakat.

Pemerintah menanggapi rumors. Aneh.

Sekedar catatan kalau yang selama ini di permasalahkan oleh kalangan politikus soal KPK tersebut adalah soal ;

1.Satu-satunya mahkota KPK, yaitu soal penyadapan. Apabila hasil perubahan, penyadapat itu menjadi di perluas seluas-luasnya, maka ini artinya KPK semakin kokoh. Dan ini arti penguatan 2. Soal SP3, bila ini tidak berubah, maka KPK di dorong untuk lebih meningkatkan kehati-hatiannya, artinya mendorong profesionalismenya. Inilah arti Penguatan 3. Kalau KPK ini hak hidupnya tidak di batasi, maka ini artinya adalah Penguatan KPK. KPK sdh cukup legitimate, karena ditetapkan oleh UU.

Kegagalan awal pembahasan RUU KPK di DPR minggu yang lalu, patut kita pertanyakan, ada apa? Yang pasti, RUU KPK itu adalah, tidak lain sebagai agenda politik partai-partai pro pemerintah; “bila tidak penguatan KPK” maka ia adalah “penguatan orde korupsi”.

 

 

 

 

 

Hanya Tinggal Dengan Gerakan Rakyat Untuk Menyetop Pembahasan RUU KPK Yg Melemahkan

Muslihat Menghabisi KPK

Apa yang ada dalam benak kita semua adalah, ketika Johan Budhi mengatakan, menolak RUU KPK, karena disinyalir akan melemahkan KPK itu sendiri. Beberapa minggu yang lalu, JB juga mengatakan dalam kapasitas sebagai Juru Bicara Presiden bahwa Presiden setujua dengan Penguatas KPK. Pernyataan ini disampaikan ditengah-tengah maraknya pro dan kontra, tentang RUU KPK yang segera akan di bahas di DPR.

Yang menarik kita perbincangkan adalah, apa yang dimaksud dengan kalimat “penguatan KPK” itu, oleh Presiden. Tidak ada penjelasan yang lebih rinci apalagi menerangkan perubahan pasal-pasal yang menjelaskan aspek-aspek penguatannya. Bahkan belakangan, apa yang beredar dibicarakan di masyarakat tentang RRU KPK ini,   tidak jelas asal usulnya. Dinayatakn oleh Menhukham, bahkan Presiden, pun belum baca RRU tersebut.

Inti dari RUU KPK yang di khawatirkan tersebut adalah soal penyadapan yang harus mendapat ijin dari pengadilan. Kalau ini di syahkan menjadi UU, maka hilanglah ruh kekuatan KPK yang selama ini, keberhasilannya, jutru dalam point ini. Dan yang kedua, masa waktu hidup KPK, di tetapkan hingga kurun waktu beberapa tahun kedepan.

Persoalan lain adalah, bila RUU KPK ini, yang dimotori oleh partai-partai pro pemerintah, bergulir di bahas di DPR, apapun yang diputuskan oleh DPR, pihak eksektuip tidak bisa menolaknya, disamping tidak memiliki hak veto, juga dalam ketentuan UU nya dikatakan; “jika presiden tidak menanda tangani RUU yang sdh dibahas dan disetujui dewan, maka secara otomatis akan berlaku pada hari ke 30”.

Caratan, dari 10 partai yang ada di DPR, saat inihanya Gerinda, Partai Demokrat dan PKS yang menolak RUU itu dibahas di DPR untuk disetujui.

Bila RUU KPK ini terus bergulis di bahas di DPR dan benar perubahannya, seperti yang di duga untuk melemahkan KPK, maka satu-satunya mengehentikan pembahasan itu adalah dengan cara “gerakan rakyat semesta”, menentang perubahan yang melemahkan KPK.

There are many ways to Heaven

take the sunset

Why will all Christians go to heaven? The answer is, according to Preacher Budi Asali: We Christians do not say: “God willing, we go to heaven”! We also do not say “let’s hope we go to heaven”! We are sure whenever we die, we MUST go to heaven! Not because we are better, but because of our sins have dealt by Jesus Christ! ”

How about Hinduism view on heaven? Well … In the Hindu scriptures say that heaven is a temporary sojourn. In fact, according to Swami Dayananda Saraswati, Heaven is a holiday experience. Bagawad Gita in this regard says: “after enjoying the vast heaven, they go back to the world. Heaven is a temporary pleasure, whereas the true happiness is Moksha, the unification of Atman (soul) with Brahman (the Creator).

Well, in the view of Islam, not all Muslims will enter paradise, even it says that human who enter heaven even less than who going to hell. Weighing terrorist who blew himself up, in order to enter heaven till as a person who breaths in his last and saying the holly words previously. But the fate of people who have to go to hell, can be up to holidina fiha abada alias lasting for ever.

What about atheists? Where are you after death? Depending individual, although generally atheists do not believe in life after death. Most believe that after death, just as before birth. There is no evidence whatsoever, except for people who have psychological problem never tells there is life after death.

Which one do you like?

 

Kereta Api Cepat Rapopo Jokowi

ka2 copy

Legenda Kereta Apri Peninggalan Belanda

Ditengah-tengah pro dan kontra mega proyek kereta api Jakarta~Bandung, tiba-tiba muncul berita di berbagai media, yang menghentak dan mengejutkan itu, adalah ditundanya mega proyek, senilai 70 T, Kerata Api Cepat kerjasama Indonesia China, yang baru saja seminggu di resmikan oleh Presiden Republik Indonesia Jokwo Widodo di Bandung.

Yang menghentikan mega proyek itu, tidak jelas ntah siapa, tetapi bermula dari Kementrian Perhubungan yang menyampaikan release, bahwa perusahaan China tersebut, belum mendapatkan ijin, untuk melaksanakan mega proyek tersebut. Perusahaan China itu belum menyampaikan dan memenuhi persyaratan teknis administrasi keperusahaanannya dan untuk mega proyek ini, bahkan belum memiliki AMDAL.

Pada sisi lain, yang memicu polemik di masyarakat adalah, mahalnya harga proyek tersebut, setelah kita tahu, bahwa proyek yang sama, yang dikerjakan oleh perusahaan yang sama dari china, di Negara Iran, harganya jauh lebih murah daripada harga di Indonesia, hingga 3 kali lipatnya. Di ujung awalnya, Jepang yang kalah tender oleh China atas proyek ini, justru menawarkan pinjaman yang lebih ringan dari China dan produk kualitas yang tidak di ragukan lebih baiknya dari produk China.

Pertanyaan yang melintas dalam pikiran saya adalah, Kok bisa terjadi kasusu seperti ini ya? Apa tidak belajar dari pengalaman masa lalu, keppres yang di telah di tanda tanganainya sendiri, justru di batalkan sendiri. Bagaimana proyek ini tidak bisa di koordinasikan dengan pihak-pihak terkait internal oleh Presiden? Padahal untuk menjaga martabat diri nya sendiri, sehingga presiden tidak di permalukan oleh masyarakat Indonesia, masyarakat apalagi oleh pihak international?

Adalah terlalu naïf, kalau semua ini adalah agenda terselubung Jokowi untuk menggagalkan proyek ini, kalau hanya ingin menjatuhkan Mentri BUMN Rini Suwandi. Last but not least, sementara anggota DPR ex PDIP juga tidak setuju dengan proyek ini, konon mbah putri Mega juga tidak setuju.

Wallahu alam bi shawab.